Coca-Cola Amatil Indonesia Optimis Tumbuh Positif di tahun 2018

Tahun 2018 Coca-Cola Amatil Indonesia tetap optimistis industri bisa berkembang ke arah positif.

Penulis: | Editor:
Kompas.com
Aktivitas pengangkutan minuman kemasan di Pabrik Coca-Cola Amatil Indonesia, Cibitung, Bekasi, beberapa waktu lalu. 

WARTA KOTA, CILANDAK---Tahun 2018 Coca-Cola Amatil Indonesia tetap optimistis industri bisa berkembang ke arah positif.

Walaupun untuk pertama kalinya secara umum, industri minuman ringan kemasan tumbuh negatif di tahun 2017.

“Di tahun 2018, industri berusaha tetap postif. Walaupun sekarang masih wait and see," kata Direktur Public Affairs and Communications Coca-Cola Amatil Indonesia, Lucia Karina, di sela-sela peresmian Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) Academy dan upacara penandatanganan perjanjian kerja bersama (PKB) di kantor CCAI, Rabu (28/2/2018).

Baca: Coca Cola Resmikan Dua Lini Produksi Baru di Cikarang

Lucia mengatakan, pihaknya masih melihat bagaimana regulasi apakah benar-benar akan fokus menumbukan investasi. Idealnya setiap regulasi bisa memicu semangat untuk berinvestasi.

Lucia mengatakan, tahun 2017 adalah tahun pertama industri minuman bertumbuh negatif. Secara keseluruhan industri minuman, tahun 2017 pertumbuhan minuman minus satu.

Padahal tahun-tahun sebelumnya pasti tumbuh, dikisaran antara 6-8 persen. “Untuk Cocacola tidak bisa sebutkan. Mau ada annual report di Australia, jadi kami enggak bisa kasih angka,” kata Lucia.

Mengapa menjadi minus? Menurut Lucia, banyak hal prioritas orang di tahun lalu. Subsidi listrik berkurang. Jadi orang berpikir priortias.

Kalau minuman beda dengan makanan. Keperluan untuk makan nasi misalnya harus. Beda dengan minuman kemasan ketika tidak jadi prioritas bisa minum di rumah dengan merebus air sendiri di rumah.

Agar tumbuh positif, diperlukan dukungan dari pemerintah. Ia memberikan contoh regulasi berpihak ke industri, terkait penyediaan bahan baku, simplikasi perijinan, dukungan dalam pendistribusian produk dan lainnya.

Bila hal-hal itu diabaikan, perbandingan investasi bukan hanya Pulau Jawa dan luar Jawa saja tapi pilihannya ke luar negeri.

“Persaingan semakin ketat. Tidak hanya bersaing di dalam negeri tapi dari luar. Dengan low material yang lebih murah di luar negeri. Gula industri paling mahal di Indonesia dibandingkan negara lain. Belum lagi rancangan UU air, dan lainnya yang bisa membelit untuk investasi,” kata Lucia.

Sumber: Warta Kota
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved