Breaking News:

Pasar Rakyat yang Tidak Disukai Rakyat, Sutopo Hanya Bisa Termangu di Depan Kiosnya

Sutopo (52) termangu di depan kios kelontongnya di kompleks Pasar Pesanggrahan, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Penulis: Feryanto Hadi | Editor:
Nibras Nada Nailufar
Suasana di Pasar Pesanggrahan 

WARTA KOTA, PESANGGRAHAN---Sutopo (52) termangu di depan kios kelontongnya di kompleks Pasar Pesanggrahan, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Sambil terkantuk-kantuk, ia terus memandang ke arah jalan raya. Sementara, sang istri, Rusnawati (50), memilih untuk memindahkan sebagian dagangannya ke dalam kios.

Sudah  lebih dari dua jam tidak ada satu orang pun yang berbelanja di kios pasangan pendatang asal Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, itu. 

"Mau tutup saja kiosnya. Kayaknya sudah tidak ada lagi orang datang. Jangankan hujan, cuaca terang saja pasar ini sepi," kata Sutopo.

Sutopo mengatakan, kondisi pedagang di sana yang sudah kian terhimpit. Beragam ekspresi pun terpancar dari wajah serta intonasi bicaranya, mulai dari ungkapan kemarahan, kesedihan, pasrah, namun di detik lain tiba-tiba ia tertawa sendiri; menertawakan kondisi yang ia hadapi kini.

Pasar Pesanggarahan merupakan salah satu dari lima pasar rakyat yang diprogramkan Joko Widodo saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Baca: Pasar Rakyat Harusnya Berkonsep Kawasan

Selain Pasar Pesanggrahan, empar pasar rakyat lain yakni Pasar Manggis di Jakarta Selatan, Pasar Kebon Bawang di Jakarta Selatan, Pasar Kampung Duri di Jakarta Barat dan Pasar Nangka Bungur di Jakarta Pusat.

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo melakukan  groundbreaking  atau peletakan batu pertama di Pasar Manggis pada Rabu (6/11/2013).  Pembangunan pasar-pasar dengan total anggaran Rp 50 miliar itu selesai pada masa kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama.

"Omzetnya sekarang turun banyak karena pembeli yang datang sedikit, itu-itu saja. Saya juga heran, pasar sudah dibangun lebih bagus malah orang-orang enggak mau datang. Sekarang ya harus banyak sabar saja," kata Sutopo yang menyewa tiga kios itu.

Baca: Kurang Promosi, Pasar Rakyat Sepi

Sutopo mengaku penghasilan yang didapatnya kini hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari serta sedikit menabung untuk ongkos mudik setiap lebaran.

Pasar Pesanggarahan berdiri di atas lahan seluas 2.360 meter persegi dengan luas bangunan 533,60 meter persegi dan terdiri dari dua lantai. Pasar ini berisi 158 tempat usaha yang terdiri dari 110 kios dan 48 los.

Masing-masing kios memiliki luas 4 meter persegi, sementara los berukuran 1,95 meter persegi. Pasar Pesanggrahan dibangun oleh PD Pasar Jaya dengan menghabiskan dana sebesar Rp 6,8 miliar. 

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved