Jumat, 29 Mei 2026

Young Lex: Bully Adalah Penyakit Baru di Sosmed

Selama berkarier di industri musik Indonesia, bully sangat dekat dan identik dengan Samuel Alexander Pieter alias Young Lex (25).

Tayang:
Penulis: Arie Puji Waluyo |
WARTA KOTA/ARIE PUJI WALUYO
Young Lex di peluncuran trailer, poster, dan Original Sound Track (OST) Film 'AIB #Cyberbully', di Hermitage Hotel Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (23/2/2018) malam. 

WARTA KOTA, MENTENG - Selama berkarier di industri musik Indonesia, bully sangat dekat dan identik dengan Samuel Alexander Pieter alias Young Lex (25).

"Bully adalah penyakit baru di sosmed. Karena dulu enggak ada sosmed. Dulu sosial saat bertemu. Kalau mau matahin orang harus di depan atau di belakangnya. Karena sekarang ada sosial media, ada tempat baru," kata Young Lex, ditemui dalam peluncuran trailer, poster, dan Original Sound Track (OST) Film 'AIB #Cyberbully', di Hermitage Hotel Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (23/2/2018) malam.

"Riset baru, kita satu sekolah bisa kenal dan ketawa bareng, tapi gua bisa bully lu lewat fake accaunt gua. Ada pelampiasan dan dilakukannya dengan aman. Karena itu, fake account untuk meluapkan emosi," sambungnya.

Baca: Kerap Jadi Korban Bully, Young Lex: Dunia Semakin Jahat

Namun, Young Lex mengaku tidak mau ambil pusing. Ia membalas bully lewat eksistensi, prestasi, dan karyanya di industri musik Indonesia.

"Banyak cara membalas bully dari orang-orang itu, salah satunya ya membalas mereka dengan karya," ucapnya.

Pelantun 'O Aja Ya Kan', 'Senyumin Aja', dan 'Delete Contact' itu membuat karya melalui hatinya.

Baca: Pernah Jadi Korban dan Pelaku Bullying, Damita Argoebie: Aku Tuh Sampai Dilemparin Batu

"Sejauh ini semua karya dan aktivitas melalui pesan hati. Sebenarnya output bisa ke banyak hal," ucapnya.

Salah satu karya mengenai bully dibuat oleh Young Lex. Pria kelahiran Jakarta, 18 April 1992 itu membuat sebuah lagu berjudul Dianggap Remeh.

Oleh rumah produksi Surya Films, lagu itu dijadikan Original Sound Track (OST) film 'AIB #Cyberbully', karya sutradara Amar Mukhi.

"Jadi, alasan buat lagu ini karena bully masih dianggap biasa. Tapi, korbannya bisa melakukan hal apa pun karena depresi, bunuh diri gitu misalnya. Proses itulah yang membuat korbannya mematahkan bully-an tersebut. Jangan menganggap remeh bully, karena dampaknya besar buat korban ya," papar Young Lex. (*)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved