Breaking News:

Terkait Larangan Edar Albothyl Oleh BPOM, Dinkes Depok Baru Akan Bertindak Senin

BPOM membekukan izin edar Albothyl sementara waktu, dan melarang penggunaannya di masyarakat.

Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Andy Pribadi
Tribunnews.com
BPOM melarang peredaran obat sariawan Albothyl. 

WARTA KOTA, DEPOK -- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, telah membekukan izin edar Albothyl dalam bentuk cairan obat luar konsentrat, karena penggunaan policresulen di dalamnya.

Penggunaan policresulen dianggap memiliki risiko 36 persen dan cukup berbahaya untuk obat luar bagi penggunanya. Albothyl selama ini diketahui masyarakat sebagai obat luar untuk sariawan.

Terkait pembekuan izin edar Albothyl tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok mengaku telah mengetahui dan menerima surat edaran BPOM atas larangan penggunaan dan izin edar Albothyl.

Namun, Dinkes Depok baru akan menindaklanjuti surat edaran BPOM pada Senin (19/2/2018) mendatang.

"Jadi, Senin nanti baru akan kami tndaklanjuti. Kami akan pelajari dulu surat edaran BPOM terkait Albothyl ini," kata Kepala Dinkes Depok, Lies Karmawati, kepada Warta Kota, Jumat (16/2/2018).

Namun kata Lies, dari info sementara diketahui bahwa BPOM membekukan izin edar Albothyl sementara waktu, dan melarang penggunaannya di masyarakat.

Untuk itu, Lies berharap masyarakat Kota Depok serta pengelola toko obat dan apotik di Depok juga ikut mentaati instruksi dari BPOM tersebut. "Kami imbau masyarakat di Depok mentaati instruksi BPOM ini," kata Lies.

Seperti diketahui BPOM bersama ahli farmakologi melarang penggunaan policresulen dalam cairan obar luar konsentrat untuk pembedahan serta penggunaan pada kulit, termasuk untuk mengobati sariawan, THT, dan vaginal.

Salah satu produk yang mengandung zat tersebut ialah Albothyl. Produk ini menurut BPOM merupakan obat bebas terbatas berupa cairan obat luar yang mengandung policresulen konsentrat dan digunakan untuk hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan, serta penggunaan pada kulit, telinga, hidung, tenggorokan (THT), sariawan, gigi, dan vaginal (ginekologi).

Oleh karena itu, sebagai tindak lanjut dari hal ini maka BPOM membekukan izin edar Albothyl dalam bentuk cairan obat luar konsentrat hingga perbaikan indikasi yang diajukan disetujui.

"Untuk produk sejenis akan diberlakukan hal yang sama. Selanjutnya kepada PT. Pharos Indonesia (produsen Albothyl) dan industri farmasi lain yang memegang izin edar obat mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat diperintahkan untuk menarik obat dari peredaran selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak dikeluarkannya Surat Keputusan Pembekuan Izin Edar," kata BPOM dalam keterangan tertulisnya di website resmi BPOM, Kamis (15/2/2018) malam.

BPOM RI mengimbau profesional kesehatan dan masyarakat menghentikan penggunaan obat tersebut.

Bagi mereka yang terbiasa menggunakan obat ini untuk mengatasi sariawan, dapat menggunakan obat pilihan lain yang mengandung benzydamine HCl, povidone iodine 1persen, atau kombinasi dequalinium chloride dan vitamin C.

"Bagi profesional kesehatan yang menerima keluhan dari masyarakat terkait efek samping penggunaan obat dengan kandungan policresulen atau penggunaan obat lainnya, dapat melaporkan kepada BPOM RI melalui website: www.e-meso.pom.go.id.," tulis pihak BPOM.(bum)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved