Rustam, Setia Menarik Becak dan Memulung

Di sudut Pasar Gembrong Lama, Johar Baru, Jakarta Pusat, Rustam (60) setia mengayuh becak dan menjadi pemulung.

Penulis: | Editor: Max Agung Pribadi
Warta Kota/Hamdi Putra
Rustam yang setia bekerja menarik becak dan memulung di sekitar Pasar Gembrong Lama, Johar Baru, Jakarta Pusat. 

Ia menggunakan sebuah tongkat yang diujungnya dipasangi jaring untuk mengambil botol plastik di kali.

"Sebulan dapat 30 kilogram, satu kilo dihargai Rp4 ribu," jelasnya.

Saat pertama kali datang ke Jakarta pada tahun 1977, ia tinggal bersama kakaknya.

Kakaknya adalah pemilik yayasan penyalur pembantu rumah tangga di Galur, Jakarta Pusat.

"Dari Purwokerto naik bus Panca Jaya. Dulu ongkosnya masih Rp7 ribu," kenang Rustam.

Enam bulan pertama, ia kesulitan mencari pekerjaan di Jakarta.

"Setelah enam bulan di Jakarta, saya dapat kerja di Lapo, rumah makan orang Batak," jelasnya.

Tidak betah bekerja di Lapo, Rustam beralih menjadi hansip.

"Berhenti jadi hansip, saya jadi kuli bangunan," ujar Rustam.

Tahun 1982, Rustam bertemu dengan pujaan hatinya, Sri Hindun, masih di kawasan Galur, Jakarta Pusat.

"Setelah menikah, saya dan istri nyari kontrakan, pindah-pindah." Demikian kata Rustam.

Dari pernikahannya dengan Sri Hindun, Rustam dikaruniai empat orang anak.

"Yang sulung dan bungsu sudah meninggal," kenangnya.

Sampai awal tahun 1990, Rustam bekerja serabutan untuk membiayai keluarganya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved