Sepuluh Perusahaan di Kota Bekasi Gulung Tikar, Ini Penyebabnya

“Nilai UMK kita nomor dua paling tinggi di Jawa Barat setelah Kabupaten Karawang. DKI Jakarta saja masih di bawah kita besaran UMK nya"

Sepuluh Perusahaan di Kota Bekasi Gulung Tikar, Ini Penyebabnya
shutterstock
ILUSTRASI perusahaan gulung tikar 

WARTA KOTA, BEKASI --- Sepuluh perusahaan industri di Kota Bekasi gulung tikar pada 2017. Pemicunya karena perusahaan mengalami defisit keuangan akibat tingginya upah minimum kota (UMK) di wilayah setempat yang menembus Rp 3,6 juta per bulan pada tahun lalu.

“Mereka pindah ke daerah Jawa Tengah karena UMK di sana lebih rendah dibanding Kota Bekasi,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Bekasi, Mochamad Kosim, di Plaza Pemerintah Kota Bekasi, Senin (22/1/2018).

Kosim mengatakan, keputusan perusahaan untuk hengkang dari Kota Bekasi semakin bulat, manakala UMK di wilayah setempat naik menjadi Rp 3,9 juta pada tahun 2018. Mereka merasa, besaran upah UMK tahun 2017 lalu saja sudah memberatkan, ditambah biaya produksi dan daya saing mereka semakin berat.

“Nilai UMK kita nomor dua paling tinggi di Jawa Barat setelah Kabupaten Karawang. DKI Jakarta saja masih di bawah kita besaran UMK nya,” ujar Kosim.

Menurut dia, perusahaan yang gulung tikar tersebut bergerak di berbagai bidang seperti garmen, percetakan, mesin, dan  perdagangan. Namun demikian, jumlah perusahaan yang pindah saat ini lebih kecil dibanding tahun sebelumnya yang masih berada di bawah kisaran lima perusahaan.

“Tiap tahun kan UMK juga naik, meski kenaikannya itu telah melewati rapat pleno antara pekerja, pemerintah, dan pengusaha,” jelasnya.

Meski demikian, kata dia, sepuluh perusahaan yang hengkang sudah menyelesaikan tanggung jawabnya dengan karyawan, seperti memberi pesangon dan hak-hak yang lain. Perusahaan yang pindah merupakan pelaku industri yang sudah berproduksi selama 10 tahun.

Akibat penutupan ini, kata dia, ada sekitar 4.000 karyawan harus mencari pekerjaan lain. Sejauh ini pemerintah daerah sudah melakukan berbagai upaya memfasilitasi mantan karyawan tersebut agar mencari pekerjaan baru.

“Kami hanya bisa memberitahu bila ada lowongan pekerjaan, keputusannya kita serahkan ke mantan karyawan tersebut,” katanya.

Berdasarkan data yang diperoleh, tahun 2016 lalu jumlah perusahaan di Kota Bekasi mencapai 1.226. Sementara tahun 2017 naik menjadi 1.504 perusahaan.

Mahalnya Ongkos Produksi

Ketua Umum Asosiasi Praktisi Humas Resource Indonesia (ASPHRI) Bekasi, Yosminaldi menambahkan masalah yang ada di perusahaan mayoritas dipicu oleh ongkos produksi yang mahal. Ditambah biaya gaji yang dikeluarkan perusahaan tiap bulan.

“Peraturan pengupahan saat ini sudah bagus yang dibuat oleh pemerintah, tapi masih tidak diterima serikat pekerja. Tinggal formula ini lebih disempurnakan lagi agar diterima seluruh kalangan,” katanya.

Menurutnya, aturan kenaikan upah pada PP Nomor 78 tahun 2015 tentang pengupahan adalah formula standar yang sudah menjadi acuan setiap tahun. Dengan demikian buruh sudah tidak bisa lagi minta kenaikan UMK seenaknya, sehingga perlu adanya keadilan untuk semua jenjang karir pekerja.

"Pekerja yang sudah 10 tahun dan lebih jangan disamakan besaran kenaikan UMK-nya,” ujarnya.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved