Tercemar Berat, Sungai Citarum dan Cisadane akan Direvitalisasi
Presiden Joko Widodo menginstruksikan revitalisasi Sungai Citarum dan Sungai Cisadane yang kini kondisinya tercemar berat limbah.
WARTA KOTA, PALMERAH-Tercatat sebagai sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat, namun ditetapkan sebagai sungai dengan tingkat pencemaran tertinggi di dunia sejak tahun 2007, Sungai Citarum masuk dalam program kerja Presiden Joko Widodo.
Sungai yang membelah wilayah Bandung hingga Karawang itu pun akan direvitalisasi agar tidak kembali menjadi wadah limbah ratusan pabrik yang bertengger di tepiannya.
Keterangan itu disampaikan Jokowi-sapaan Joko Widodo, dalam rapat terbatas dengan sejumlah Menteri Kabinet Kerja seperti yang diposting Kantor Staf Presiden lewat akun twitter @KSPgoid di Graha Wiksa Praniti, Kota Bandung pada Selasa (16/1/2018).
Dalam rapat yang membahas revitalisasi dan penataan Sungai Citarum itu, Jokowi memerintahkan seluruh jajaran pemerintahan segera merevitalisasi Sungai Citarum karena dianggap sangat vital bagi hajat hidup masyarakat luas.
Presiden pun mematok target pengelolaan sungai harus terintegrasi, mulai dari konsep, pelaksanaan hingga pengawasan di lapangan dalam tujuh tahun ke depan.
"Jangan ditunda-tunda lagi. Penataan Sungai Citarum akan kita pakai sebagai contoh pengelolaan daerah aliran sungai di wilayah lain.Kuncinya ada di integrasi semua kementerian, lembaga, pemerintah pusat, daerah, provinsi, kabupaten, dan kota. Kuncinya hanya di sini," tulis @KSPgoid mengutip pernyataan tegas Jokowi.
Alasan revitalisasi dilakukan karena tidak ingin pencemaran di aliran Sungai Citarum terus berlanjut dan membahayakan generasi muda Indonesia.
Sebab Sungai Citarum sangat vital dan memberikan beragam manfaat bagi masyarakat di sekitarnya, salah satunya sebagai sumber air minum bagi 27,5 juta penduduk Jawa Barat maupun DKI Jakarta serta irigasi bagi sebanyak 420 ribu hektare sawah wilayah Jawa Barat.
Karena itu, Pemerintah katanya tidak akan segan menjatuhkan hukuman tegas bagi para pelaku pencemaran sungai.
"Saya tidak mau Sungai Citarum menjadi tempat pembuangan limbah raksasa bagi pabrik-pabrik yang berlokasi di tepian sungai. Di aliran sungai ini juga ada tiga PLTA, Saguling, Cirata, dan Jatiluhur yang mampu menghasilkan daya listrik 1.400 MW," jelas Jokowi diakhir kicauan @KSPgoid.
Sementara itu, Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto lewat akun instagramnya @bimaaryasugiarto menggambarkan kondisi terkini Sungai Cisadane.
Penyusutan air pada bagian tengah aliran, tepatnya Bogor Tengah sengaja dilakukan pihaknya bersama Pengelola Air Minum PDAM sebagai langkah pembersihan Sungai Cisadane dari beragam sampah dan limbah yang mengendap di dasar sungai saat ini.
Terkait hal tersebut, dirinya meminta maaf kepada warga Bogor, khususnya pelanggan PDAM yang kini mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Sebab, selama proses pembersihan, PDAM sengaja mengurangi pasokan air bakunya untuk mencegah pencemaran air bersih pada pipa-pipa distribusi, terutama pipa yang mengarah ke pelanggan rumah tangga.
"Aliran air PDAM terganggu di wilayah Bogor Tengah, Timur, Utara dan Tanah Sareal karena dampak dari limbah pembangunan Tol Bocimi dan juga Limbah Pabrik yg volume nya sangat tinggi. Saya minta PDAM cepat atasi untuk menambah kualitas alat2 di Unit Sedimentasi penampungan air baku, juga pastikan untuk awasi pembuangan limbah ke Cisadane. Mohon maaf atas ketidaknyamanan para pelanggan PDAM. Hatur nuhun," tulisnya menyertai video inspeksinya pada Selasa (16/1/2018).
Beragam tanggapan pun bermunculan, sebagian besar mendukung aksi Bima Arya dalam pengelolaan sungai.
Sementara, sebagian lainnya menyalahkan warga pada bagian hulu Sungai Cisadane yang membuang sampah sembarangan hingga merugikan warga Bogor yang bermukim pada bagian hilir sungai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/30170201warga-geger-ratusan-ikan-mati_20170201_125203.jpg)