Setyowati Harbani Dari Panggung Teater Beralih ke Dunia Seni Lukis
Ia pernah menjadi pemeran utama dalam film lepas yang disiarkan TVRI Jakarta. Ketika itu ia mendapat peran dalam film layar lebar karya Arifin C Noor.
Penulis: AchmadSubechi | Editor: AchmadSubechi
WARTA KOTA, PALMERAH--Nama lengkapnya Setyowati Harbani. Mengawali kegiatan seni peran sejak kecil, dari panggung 17 Agustusan.
Setelah itu ia mulai tertarik dengan dunia teater. Kemudian Harbani mendirikan sanggar teater, hingga pentas di Gedung Kesenian Jakarta.
Ia pernah menjadi pemeran utama dalam film lepas yang disiarkan TVRI Jakarta. Bahkan, ketika itu ia mendapat peran dalam film layar lebar karya Arifin C Noor.
Selain itu, ia juga bermain di Film 'Ambilkan Bulan' karya Ifa Ifansyah.
Harbani menempuh pendidikan di STSI Surakarta tahun 1993.
Belakangan, ia mulai tertarik dengan dunia seni lukis dan mulai aktif menggelar pameran lukisan sejak tahun 2016 di Solo dan Yogyakarta.
"Dan yang membanggakan saya bisa mengikuti pameran bersama maestro Yogyakarta di IKAISYO tahun 2017 lalu," ujar Harbani.
Saat ini ia memiliki puluhan lukisan di rumahnya di Yogyakarta. Ketika ditanya soal aliran lukisannya, Harbani mengatakan, "Tidak menganut aliran meski menyukai gaya Van Gogh. Saya lebih menyesuaikan penguasaan tehnik melukis dalam perkembangannya. Terserah orang menganggap aliran apa," ujarnya.
Namun diakuinya, pada awalnya ia lebih mendalami penguasaan tehnik, dan realis.
Sebenarnya, kata Harbani, ia tidak memiliki bakat melukis. Namun, sejak kuliah ia mulai menyukai dunia lukis.
"Dorongan dari minat setelah saya memahami jiwa seni mantan suami dan terobsesi dengan kehidupan eksentrik seniman Eropa," ujarnya.
Menurutnya, sebagai mantan pemaian di dunia seni peran, ekspresi di dunia lukis sangat mungkin tertumpah di kanvas.
"Imajinasi yang liar yang sulit terkatakan pun bisa sampai. Serta pesan-pesan moral bisa tersirat mempengaruhi penikmat untuk sampai pada tujuan," ungkapnya.
Apalagi sejak merasakan dunia seni lukis, Harbani mengaku menemukan kebahagiaan dan kedamaian tersendiri.
"Ada rasa damai, ada rasa bahagia yang tak terkira seperti membuka sumbatan batas kata kata. Mengapa? Kebebasan adalah tujuan, dalam membebaskan pikiran yang terarah dengan sejujurnya," tambah pemilik Cafe Rumah Cemara.
Diakuinya, seriring dengan berjalannya waktu, ia optimistis ada peningkatan skill dan bertumbuhnya imajinasi. "Ada kepekaan sosial yang membawa seniman pada kematangan dan kemantapan batin."
Siapa sosok maestro yang ia kagumi? "Salvador Dali adalah pria romantis. Baginya wanitanya adalah inspirasi tak terbatas bagi karya-karyanya," ucap wanita kelahiran Solo, 20 Agustus 1968.
"Selain itu saya juga menyukai Affandi. Beliau adalah maestro yang telah memerdekakan goresan Dan warna sesuai kehendaknya. Belum ada yang saya lihat sebebas Affandi," paparnya.
Sedangkan tema lukisannya, lebih mengarah kepada keindahan alam semesta dan sisi lain dari kehidupan manusia.
"Kepekaan akan terasah, figur perempuan Jawa adalah awal karyaku bicara tentang perempuan yang seharusnya menempati kedudukan tertinggi. Mengapa? Tanpa ada wanita dunia ini akan melompong, tidak ada regenerasi. Untuk itu wanita harus dihargai, diangkat harkat dan martabatnya setinggi-tingginya," ungkapnya.
Harbani, juga sangat kritis dengan masalah politik dan urusan sosial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/harbani_20180112_192028.jpg)