Penempatan PKL di Trotoar dan Jalan di Tanah Abang Picu Kecaman Meski Ada juga yang Membelanya

Sejumlah pihak menyatakan pro dan kontra terkait dengan kebijakan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan di Tanah Abang.

Penempatan PKL di Trotoar dan Jalan di Tanah Abang Picu Kecaman Meski Ada juga yang Membelanya
Warta Kota/Alex Suban
Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Tanah Abang memicu kontroversi.

Sejumlah pihak menyatakan pro dan kontra terkait dengan kebijakan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan di Tanah Abang.

Seperti terjadi di sejumlah kawasan, penataan PKL selalu memicu kontroversi di antaranya terkait dengan kawasan yang dinilai kumuh di kawasan pasar tradisional.

Masalah PKL sendiri, selama ini, khususnya di kawasan Tanah Abang selalu menjadi masalah klasik yang belum pernah tuntas.

Upaya untuk menempatkan PKL di Blok G Tanah Abang disambut negatif bahkan kawasan itu cenderung ditinggalkan pedagang akibat dinilai sepi pembeli.

Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar.
Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar. (Warta Kota/Alex Suban)
Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar.
Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar. (Warta Kota/Alex Suban)
Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar.
Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar. (Warta Kota/Alex Suban)

Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar.

Mereka kemudian memilih untuk berjualan di badan jalan, akibatnya pembangunan pasar menjadi sia-sia.

Misalnya kawasan Blok G di Tanah Abang yang merana dan sepi karena PKL memilih berjualan di jalan dengan alasan sepi.

Padahal, kawasan itu dibangun dengan biaya dan anggaran tidak sedikit karena dibiayai oleh APBD yang tidak sedikit.

Akibat kebijakan untuk menggunakan trotoar dan badan jalan di kawasan Tanah Abang ini, tidak sedikit kalangan mengecam kebijakan tersebut.

Meski ada juga sebagian kalangan membelanya.

Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar.
Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar. (Warta Kota/Alex Suban)
Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar.
Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar. (Warta Kota/Alex Suban)
Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar.
Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar. (Warta Kota/Alex Suban)
Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar.
Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar. (Warta Kota/Alex Suban)
Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar.
Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar. (Warta Kota/Alex Suban)
Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar.
Banyak kalangan pedagang dengan sejumlah alasan kemudian menolak untuk berjualan di dalam pasar. (Warta Kota/Alex Suban)
Penulis:
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved