Kejagung Segera Tetapkan Tersangka Penyalahgunaan Investasi Pertamina di Blok BMG Australia

"Mudah-mudahan dalam waktu dekat, akan diambil langkah ... penetapan tersangka," kata JAM Pidsus Adi Toegarisman di Jakarta, Jumat malam.

Kejagung Segera Tetapkan Tersangka Penyalahgunaan Investasi Pertamina di Blok BMG Australia
Warta Kota/Herudin
Gita Wirjawan 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Kejaksaan Agung (Kejagung) menyatakan segera menetapkan tersangka penyalahgunaan investasi PT Pertamina (Persero) di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2009.

"Mudah-mudahan dalam waktu dekat, akan diambil langkah tepatnya atau penetapan tersangka," kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Adi Toegarisman di Jakarta, Jumat malam.

Karena itu, katanya, untuk menetapkan tersangka kasus itu dengan segera, pihaknya terus melakukan pendalaman dengan mengumpulkan bukti-bukti dan keterangan saksi.

"Sampai sekarang kami masih melakukan pendalaman," katanya seraya meminta wartawan menunggu penetapan tersangka kasus itu.

Dalam kasus itu, Kejaksaan telah memeriksa mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan sebagai saksi sebanyak dua kali.

Saksi penting lain yang sudah diperiksa ialah mantan Menteri Perdagangan di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Gita Wirjawan.

Kasus tersebut berkaitan dengan langkah PT Pertamina pada 2009, melalui anak perusahaannya PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mengakuisisi 10 persen saham perusahaan ROC Oil Ltd.

Perjanjian jual beli itu ditandatangani pada 1 Mei 2009 dengan modal sebesar 66,2 juta dolar Australia atau setara Rp568 Miliar dengan asumsi mampu menghasilkan minyak 812 barel per hari.

Namun, ternyata Blok BMG Australia pada tahun 2009 hanya dapat menghasilkan minyak mentah untuk PHE Australia Pty.Ltd rata-rata sebesar 252 barel per hari.

Pada 5 November 2010, Blok BMG Australia dinyatakan ditutup setelah ROC Oil Ltd, Beach Petrolium, Sojits dan Cieco Energy memutuskan penghentian produksi minyak mentah (non production phase/ npp) dengan alasan lapangan tidak ekonomis.

Editor:
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved