Korupsi KTP Elektronik

Gara-gara Novanto, Pengamat Hukum Bergaya Nyentrik Ini Mengaku Mendadak Terkenal

Kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP yang menjerat terdakwa Setya Novanto, menarik perhatian publik.

Gara-gara Novanto, Pengamat Hukum Bergaya Nyentrik Ini Mengaku Mendadak Terkenal
TRIBUNNEWS/GLERY LAZUARDI
Mahmud Mulyadi, pengamat hukum pidana dari Universitas Sumatera Utara. 

WARTA KOTA, PALMERAH - Kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP yang menjerat terdakwa Setya Novanto, menarik perhatian publik. Publik terus memperhatikan perkembangan kasus korupsi yang merugikan negara sebesar Rp 2,3 triliun tersebut.

Perhatian publik tidak hanya kepada Setya Novanto, namun juga kepada sejumlah orang yang berada di sekitar Ketua DPR RI nonaktif itu.

Setelah Fredrich Yunadi yang sempat tenar karena ucapan 'kepala novanto benjol segede bakpao', kali ini giliran pengamat hukum pidana dari Universitas Sumatera Utara Mahmud Mulyadi yang turut menjadi bahan perbincangan.

Baca: Ada Nama-nama yang Hilang dalam Dakwaan, Kuasa Hukum Setya Novanto Minta KPK Jangan Ngeles

Mulyadi memang tidak mempunyai hubungan saudara ataupun pekerjaan dengan Novanto.

Namun, dia pernah dihadirkan sebagai saksi ahli di sidang praperadilan jilid II atas penetapan tersangka Setya Novanto, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

"Saya menjadi mendadak terkenal," ujar Mulyadi, saat berbicara sebagai moderator diskusi yang digelar Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Selasa (19/12/2017).

Di setiap penampilan, Mulyadi berpakaian nyentrik, mulai dari kepala hingga ke ujung kaki. Dia membentuk rambut bergaya mohawk.

Pada acara PPATK itu, dia memakai kemeja berwarna biru tua bermotif, dipadu blazer abu-abu.

Dasi garis-garis berwarna biru dan merah muda membuat penampilannya mencolok.

Halaman
12
Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved