KLB Difteri, PB IDI dan IDAI Minta Program Imunisasi Digalakkan

KLB Difteri membuat PB IDI IDAI dan PAPDI menyatakan keprihatinannya. Mereka juga meminta agar dilakukan imunisasi ulang.

KLB Difteri, PB IDI dan IDAI Minta Program Imunisasi Digalakkan
Warta Kota/Hamdi Putra
Pasien difteri yang dirawat di RSPI Sulianti Saroso, Jumat (15/12). 

WARTA KOTA, PALMERAH--Dalam beberapa pekan terakhir ini, berbagai daerah Indonesia dilaporkan mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri yang sudah tidak pernah muncul lagi di Indonesia. 

Dengan ini, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menyatakan keprihatinan.

Mereka menekankan agar seluruh masyarakat terutama orangtua untuk membawa anaknya guna mendapat imunisasi tambahan dan status imunisasi semua anak di luar wilayah ORI lengkap sesuai usia untuk menanggulangi Kejadian Luar Biasa Difteri.  

Difteri adalah penyakit sangat menular yang dapat menyebabkan kematian dengan cepat. 

Outbreak Response Immunization (ORI) merupakan upaya tambahan untuk menciptakan kekebalan komunitas agar masyarakat terutama anak-anak di daerah ORI terhindar dari penyakit difteri yang berbahaya dan sangat menular.  

Syarat tercapainya kekebalan komunitas adalah cakupan imunisasi di suatu daerah harus tinggi terus menerus.

Untuk memenuhi syarat kekebalan komunitas ini, seharusnya pelaksanaan imunisasi selalu ditargetkan 100 %.  

Hal ini berarti semua anak di wilayah ORI mendapat imunisasi tambahan, dan status imunisasi semua anak di luar wilayah ORI lengkap sesuai usia.  

IDI melihat bahwa permasalahan ini muncul disebabkan cakupan imunisasi belum merata dan belum sesuai target, masih ada pendapat yang keliru dalam masyarakat mengenai imunisasi, serta kekhawatiran masyarakat terkait efektivitas dan keamanan vaksin bagi anak.  

Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 melaporkan alasan tidak imunisasi adalah karena keluarga tidak mengijinkan, takut anak menjadi panas/demam, anak sering sakit sehingga tidak dibawa
ke tempat imunisasi, tidak tahu tempat imunisasi, tempat imunisasi jauh, serta sibuk/repot.

Halaman
123
Editor: Achmad Subechi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved