Breaking News:

Sarinah akan Buka Outlet di Mekkah dan Mengkaji Peluang Buka di Tokyo

Di Mekkah, pertengahan Januari tahun depan sudah bisa dibuka. Sementara di Tokyo masih menunggu kajian bisnis.

Warta Kota/Henry Lopulalan
Ilustrasi. Model berbusana batik menuruni dinding gedung Sarinah, Menteng, Jakarta Pusat. 

WARTA KOTA, MENTENG -- Walaupun secara makro, tahun 2017 dianggap tahun yang sulit bagi dunia retail, namun Pusat Perbelanjaan Sarinah yang berada di Jalan Thamrin tetap membukukan keuntungan.

Sejak Oktober, Sarinah Thamrin terus mendapatkan laba.

Sampai awal Desember 2017, Sarinah Thamrin sudah mendapatkan keuntungan Rp 10 miliar.

“Walaupun secara nasional belum mencapai target. Tapi, Sarinah Thamrin sudah mendapatkan laba sejak Oktober ini hingga sekarang,” ujar Direktur Utama PT Sarinah (Persero) G.N.P Sugiarta Yasa saat pagelaran Srikandi BUMN Peduli di Sarinah Thamrin, Jumat (15/11/2017).

Tahun depan, kata dia, target laba yang dipatok naik, harus melampai Rp 20 miliar. Untuk mencapai target tersebut,

Yasa punya berbagai cara, tidak melulu jualan tapi dengan melakukan diversifikasi kegiatan, serta agresif membuka outlet di bandara internasional, hotel, dan di luar negeri.

Rencananya, outlet di luar negeri akan buka di Mekkah (Arab Saudi) dan Tokyo (Jepang).

“Dilakukan bertahap sesuai kajian bisnis. Tapi, yang di Mekkah, pertengahan Januari tahun depan sudah bisa dibuka. Sementara di Tokyo masih menunggu kajian bisnisnya,” katanya.

Pembukaan gerai Sarinah di bandara juga mengalami kenaikan seiring dengan masuknya 10 destinasi unggulan selain Bali dari pemerintah.

Bila saat ini gerai Sarinah baru ada di 5 bandara seperti Soekarno Hatta (Jakarta), Kualanamu (Medan), Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (Palembang), Ngurah Rai (Bali), dan Hasanudin (Makassar), rencananya bandara yang masuk dalam 10 destinasi prioritas akan terdapat gerai Sarinah.

Seperti diketahui, Pemerintah Indonesia telah memerkenalkan 10 destinasi pariwisata prioritas.

Sepuluh destinasi itu adalah Borobudur, Danau Toba, Bromo Tengger Semeru, Pulau Komodo, Pulau Seribu, Tanjung Kelayang, Mandalika, Wakatobi, Morotai, dan Tanjung Lesung.

Sementara, gerai di hotel juga tak kalah agresif. Sekitar 4-5 gerai Sarinah akan dibuka di hotel terurtama dari Grup Inna dan Patra Jasa.

Dari kajian yang masuk, gerai Sarinah akan dibuka di hotal yang berada di Padang (Sumatera Barat), Kuta (Bali), Yogya (DIY Yogayakarta), Medan (Sumatera Utara), serta satu milik Patra Jasa yang belum ditentukan lokasinya.

Menurut Yasa, pembukaan gerai Sarinah di bandara dan hotel terkait dukungan Sarinah terhadap Program pengembangan pariwisata untuk penyediaan suvenir.

“Tahap awal, tidak semua membuat laba tapi branding dan pecitraan bahwa produk ungulan di Indonesia itu kaya,” ujar Yasa.

Di masing-masing bandara akan diutamakan yang menjadi ciri khas di daerah tersebut.

Sementara produk unggulan dari daerah lain hanya sebagai pelengkap saja.

Berkaca pada gerai Sarinah yang berada di bandara, kain masih menjadi barang yang banyak dicari para wisatawan.

Bahkan tidak hanya wisatawan luar negeri tapi juga dalam negeri.

Ia memberikan contoh di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta, barang yang banyak dicari tenunan dan rajutan serta batik Garut.

Khusus, kain Garut bahkan diibaratkan seperti ‘menjual kacang goreng’.

Selain juga barang-barang vintage seperti radio transistor dari kayu.

Padahal, harganya juga tidak murah, di atas Rp 2 juta.

Selain terus membuka toko offline, era saat ini mau tidak mau, Sarinah juga harus bermain di digital.

Dalam waktu dekat, Sarinah akan membuka online store Sarinah.

“Sebelum akhir tahun, rencananya kita akan luncurkan online store. Targetnya tanggal 22 Desember mendatang, tapi kita masih mau menguji dulu biar siap. Insya Allah saat perayaan old and new (Tahun Baru), kita akan luncurkan online sarinah,” kata Yasa.

Ia menjelaskan, nantinya produk Sarinah di online akan lebih murah ketimbang di toko offline.

Dengan alasan, toko membutuhkan sewa tempat, pendingin udara, serta karyawan yang cost-nya tentu besar.

Sementara di online, ongkos displaynya lebih murah.

Di online itu, kata Yasa, nantinya selain menjual juga jadi pengemban produk-produk Indonesia. Akan ada cerita dibalik produk tersebut.

“Di web tersebut akan ada story tellingnya. Misalnya batik indigo bagaimana prosesnya dan asalnya, nanti diceritakan juga di sana,” ujarnya.

Untuk tahap awal, Sarinah online itu akan berbentuk web online, namun selanjutnya akan menjadi marketplace.

Di mana Sarinah akan menghimpun para pengrajin serta UKM dari daerah untuk bergabung di toko online Sarinah.

Penulis:
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved