Waduh, Pasien Difteri di RSPI Sulianti Saroso Meningkat, Ini Penjelasannya

Pasien terindikasi penyakit difteri mengalami peningkatan di RSPI Sulianti Saroso, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Waduh, Pasien Difteri di RSPI Sulianti Saroso Meningkat, Ini Penjelasannya
Warta Kota/Junianto Hamonangan
Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek meninjau pasien difteri di RSPI Sulianti Saroso, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (11/12). 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Junianto Hamonangan

WARTA KOTA, TANJUNG PRIOK -- Pasien terindikasi penyakit difteri mengalami peningkatan di RSPI Sulianti Saroso, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Hal itu terungkap saat Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek meninjau para pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.

Jika sebelumnya hanya 10 maka saat ini ada sebanyak 33 pasien yang dirawat di RSPI Sulianti Saroso dimana 22 di antaranya merupakan anak-anak.

Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek meninjau pasien difteri di RSPI Sulianti Saroso, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (11/12).
Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek meninjau pasien difteri di RSPI Sulianti Saroso, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (11/12). (Warta Kota/Junianto Hamonangan)

Mereka berasal tidak hanya dari DKI Jakarta saja namun dari daerah penyangga ibukota seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

"Ada 33 pasien yang dirawat RSPI Sulianti Saroso yang secara klinis difteri. Mereka masih dalam pemeriksaan laboratorium tapi kita sudah obati sebagai penderita difteri dan diisolasi," ungkap Nila, Senin (11/12).

Nila mengatakan banyaknya anak-anak yang terindikasi mengidap penyakit difteri dikarenakan daya tahan tubuh mereka yang rendah.

Selain itu, mereka juga diketahui tidak pernah ikut imunisasi DPT yang seharusnya wajib untuk setiap anak-anak.

"Jadi 4-5 tahun ini anak yang ditanyakan kepada ibunya apakah anaknya diimunisasi, jawabnya nggak. Alasannya takut panas lah, segala macam. Ini kelihatan meningkat karena banyak yang tidak imunisasi dan daya tahan menurun. Sehingga kuman datang terjadi KLB ini," katanya.

Sementara untuk kasus orang dewasa, pihaknya menilai hal tersebut dikarenakan daya tahan tubuh yang bersangkutan rendah.

Sehingga ketika bersinggungan dengan orang beresiko, mereka ikut terpapar penyakit difteri.

"Untuk dewasa mereka dapatkan karena daya tahan tubuh turun. Pemberian imunisasi difteri mulai tahun 1977, jadi kalau umur seperti saya nggak dapat DPT, bisa kena kalau berinteraksi dengan orang yang beresiko," ucapnya. (*)

Penulis: Junianto Hamonangan
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved