Bali Masih Jadi Daerah Tujuan Wisata Favorit Warga Australia

Bali masih menjadi tujuan favorit warga negara Australia bahkan banyak di antara mereka yang menganggap Pulau Dewata sebagai rumah kedua.

Bali Masih Jadi Daerah Tujuan Wisata Favorit Warga Australia
via Antaranews.com
Dokumentsi Kunjungan Wisman Ke Bali. Wisatawan memadati kawasan wisata Pantai Kuta, Bali, Selasa (10/10/2017). Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali pada bulan Agustus 2017 mencapai 601.884 kunjungan, meningkat 37,37 persen dibandingkan dengan bulan Agustus 2016 dan meningkat 1,66 persen dibanding bulan Juli 2017 dengan mayoritas wisman berasal dari Tiongkok, Australia dan Jepang. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf) 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Bali masih menjadi tujuan favorit wisatawan mancanegara (wisman) asal Australia bahkan banyak di antara mereka yang sudah menganggap Pulau Dewata sebagai rumah kedua.

"Australia masih merupakan pasar pariwisata Indonesia yang luar biasa karena 90 persen perjalanan masyarakat Australia itu ke Bali," kata Country Manager Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) di Melbourne Emil Hardy Ridwan, Senin.

Ia mengatakan, tercatat tiga besar tujuan bepergian masyarakat Australia tertinggi yakni ke Selandia Baru, Bali, dan Amerika Serikat.

Namun untuk tujuan Selandia Baru, katanya, sebagian besar untuk kepentingan kunjungan keluarga dan relasi (visiting family and relatives tourism). "Jadi untuk tujuan wisata, Bali masih menjadi favorit utama mereka," katanya.

Bahkan saat Bandara Ngurah Rai di Bali sempat ditutup pada 26-27 Desember 2017 akibat peningkatan aktivitas Gunung Agung, tidak membuat wisman Australia khawatir.

"Terutama mereka yang muda-mudi, independen traveler, mereka cuek. Meskipun untuk yang segmen yang sudah keluarga banyak yang menahan diri untuk sementara tidak ke Bali," katanya.

Fakta lain kata Emil, maskapai yang berbasis di Melbourne Jetstar menambah frekuensi penerbangan ke Denpasar dari tujuh kali sepekan menjadi 12 sepekan pada siang hari.

"Ternyata permintaan masih sangat tinggi sehingga mereka ingin terus menambah frekuensi penerbangan dari Melbourne dan Sydney tapi kapasitas bandara di Bali tidak mampu memenuhi demand yang tinggi tersebut," katanya.

Hal itu menurut Emil merupakan potensi pasar yang besar yang harus terus dipertahankan oleh Indonesia.

Namun pada saat kondisi Bali belum sepenuhnya kembali stabil, ia berupaya untuk melakukan promosi pariwisata Indonesia dengan strategi bertahan demi menghadapi serbuan kompetitor yang juga gencar mempromosikan pariwisatanya di pasar Australia di antaranya AS dan Jepang.

Selain itu, ia juga berupaya untuk menggandeng kerja sama dengan "wholesalers" dan maskapai, serta menggarap pasar untuk segmen yang lebih spesifik seperti "health and wellness" market yang kini semakin diminati.

"Kami juga upayakan untuk perluasan dan pengenalan destinasi lain di luar Bali. Adanya program 10 Bali Baru memang merupakan opsi yang sangat baik yang mendukung ini," katanya.

Indonesia menargetkan mampu menjaring 1,8 juta wisman asal Negeri Kanguru itu sampai tutup tahun ini agar mampu berkontribusi terhadap total target kunjungan wisman sebesar 15 juta orang.

Editor:
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved