Perpustakaan Nasional yang Instagramable dan Kekinian
Bagian dalamnya juga meliputi ruang-ruang luas dengan konsep hemat energi yang memiliki banyak jendela, sehingga sangat terang.
Penulis: |
WARTA KOTA, PALMERAH -- Perpustakaan Nasional sudah berbenah, bersih, dan bikin betah.
Lokasi ini bahkan bisa menjadi tujuan travel yang sangat bermanfaat.
Kesan suram, sunyi, bahkan berdebu masih lekat dengan perpustakaan di Indonesia.
Namun bila mengunjungi Perpustakaan Nasional yang berada di Jalan Merdeka Selatan, Gambir, kesan itu akan hilang.
Perpustakaan yang modern, ceria, dan kekinian, langsung menyergap begitu sampai di pintu masuk.
Dari luar, gedung yang letaknya bersebelahan dengan areal Balai Kota ini kelihatan seperti jendela.
Bagian dalamnya juga meliputi ruang-ruang luas dengan konsep hemat energi yang memiliki banyak jendela, sehingga sangat terang.
Ada 24 lantai, yang tiap lantainya punya layanan yang berbeda-beda.
Perpustakaan yang dikunjungi sekitar 3.000-5.000 orang per hari di hari biasa, dan sampai 10.000, saat Sabtu ini, memiliki spot-spot foto yang Instagramable.
Sehingga memanjakan pengunjung yang ingin berswa foto.
Dari lantai 24 misalnya bisa ambil foto dengan latar belakang Monumen Nasional (Monas) yang terlihat kecil.
Belum lagi sudut-sudut ruangan yang terang hampir bisa jadi sudut yang manis untuk berswa foto.
Sebelum masuk ke bangunan yang memiliki koleksi hampir 5 juta buku ini, pengunjung terlebih dahulu masuk ke semacam pendopo yang difungsikan layaknya museum.
Di sana ada empat ruangan, masing-masing dua di sebelah kanan dan kiri, yang menampilkan riwayat baca bangsa Indonesia, serta penjelasan mengenai perkembangan media penulisan serta barang-barang yang menjadi saksi sejarah, seperti media tulis bambu, kayu alim, daun lontar, gebang, hingga ke kertas Eropa dan kertas China.
Ada selasar, yang pada kanan dan kirinya dihiasi kotak-kotak kaca.
Ada Nagarakretagama karya Empu Prapanca, Babad Diponegoro yang yang ditulis sendiri oleh Pangeran Diponegoro.
Keduanya masuk dalam daftar warisan budaya dunia UNESCO.
Keluar dari pendopo museum, ada ruang terbuka hijau dengan tangga lebar menuju gedung yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo 14 September 2017 lalu.
Di lobi inipun sebelum ingin berkutat dengan buku, ada deretan lukisan hitam putih presiden Republik Indonesia, mulai dari Soekarno hingga presiden ketujuh Joko Widodo.
Di tengah aula lobi utama berdiri rak buku yang menjulang hingga lantai keempat.
Di atasnya terdapat langit-langit bergambarkan peta Indonesia.
Rak tersebut menjadi spot foto favorit pengunjung.
Tidak hanya gedungnya saja yang modern, tata laksana peminjamannya pun serba digital.
Bila ingin langsung meminjam buku, harus dilakukan pendaftaran dulu.
Sampai saat ini, perpustakaan yang buka tiap Senin-Sabtu pukul 08.00 hingga 16.00 ini hampir selalu ramai oleh pengunjung yang mulai mendaftar.
Ada belasan komputer yang tersedia bagi pengunjung yang ingin mendaftar secara mandiri.
Setelah mendaftar, pengunjung akan mendapat kertas nomor antre untuk memproses kartu keanggotaan di empat konter layanan yang tersedia.
Saat ini, biasanya dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mendapatkan kartu anggota. Karena hanya yang memiliki kartu anggota sajalah yang boleh meminjam buku.
Kepala Perpustakaan Republik Indonesia Muh Syarif Bando mengakui, sebagian besar pengunjung adalah pelajar dan mahasiswa.
Namun, sebenarnya, perpustakaan ini melengkapi kebutuhan pengunjung dari berbagai lapisan dan kebutuhan.
Lantai tujuh misalnya yang merupakan layanan koleksi anak, lansia dan distabilitas.
Ruangan untuk anak sangat lebar, full karpet dengan koleksi buku yang banyak. Dindingnya juga penuh gambar-gambar yang lucu.
Sementara bagian lansia dan disabilitas ada fasilitas kursi roda dan koleksi buku huruf braille.
Lantai 14 ada layanan koleksi buku langka, serta lantai 19 layanan multimedia.
Ruangan ini menjadi favorit untuk berselancar di dunia maya karena area ini layanan internatnya paling kencang. (lengkapnya lihat boks).
Semua ruang yang tersedia luas, dengan penataan dan pencahayaan yang baik menjadikan Perpustakaan Nasional menjadi tempat yang asyik untuk membaca yang jauh dari membosankan.
Digitalisasi tak terelakan termasuk di Perpustakaan Nasional.
Menurut Muh Syarif, pengembangan digital terus dilakukan.
Buku-buku diharapkan bisa full konten dan full text, sehingga bisa dibaca di manapun secara gratis.
“Kalau buku sudah di Perpustakaan nasional dan sudah di full konten dan full text, akan menyebar di 132 negara dan luar biasa, bisa dibaca jutaan orang karena bisa dibaca secara gratis kepada seluruh masyarkaat dunia,” ujar Syarif saat media briefing PerpusSeru, pekan lalu.
Saat ini, koleksi buku di Perpustakaan Nasional mencapai 4-5 juta buku, fasilitas e book ada 23 ribu jurnal dan 130 ribu buku. Walaupun tidak ada target, namun, saat ini semua buku baru yang masuk ke Perpustakaan Nasional sudah e-book.
Untuk menjadikan e-book, Perpustakaan Nasional harus mendapatkan persetujuan dari penulis untuk menghindari masalah hak cipta.
“Saat ini untuk menjadikan buku jadi e-book sudah siap fasilitas dan SDM nya. Tinggal persetujuan hak cipta dari penulis. Padahal seperti di negara lain seperti Australia, ketika buku sudah masuk perpustakaan nasional sudah jadi milik negara. Tidak ada lagi masalah hak cipta. Tapi di sini, kita hanya ingin mencegah adanya masalah hukum, sehingga setiap buku yang akan di e-book harus ada persetujuan penulis,” katanya.
Secara keseluruhan, perpustakaan ada di setiap propinsi, tingkat dinas, kabupaten/kota, serta sekitar 4.000 di Perguruan Tinggi, dan ratusan ribu di sekolah jenjang SMP dan SMA. Namun, yang punya standar Perpustakaan hanya 20 persen, dan yang punya digital masih kurang 5 persen.
Berikut daftar lengkap peruntukan setiap lantai di gedung baru Perpustakaan Nasional:
Lantai 1: Lobi Utama
Lantai 2: Ruang Layanan Keanggotaan Perpustakaan dan Ruang Teater
Lantai 3: Zona Promosi Budaya Baca Gemar Membaca
Lantai 4: Ruang Pameran Koleksi Perpustakaan
Lantai 5: Perkantoran
Lantai 6: Data Center/ Musholla
Lantai 7: Layanan Koleksi Anak, Lansia, dan Disabilitas
Lantai 8: Layanan Koleksi Audiovisual
Lantai 9: Layanan Koleksi Naskah Nusantara
Lantai 10: Penyimpanan Koleksi Deposit
Lantai 11: Penyimpanan Koleksi Monograf Tertutup
Lantai 12: Ruang Baca Koleksi Deposit
Lantai 13: Ruang Baca Koleksi Monograf Tertutup
Lantai 14: Layanan Koleksi Buku Langka
Lantai 15: Layanan Koleksi Referens
Lantai 16: Layanan Koleksi Foto, Peta, dan Lukisan
Lantai 17: Kantor Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
Lantai 18: Kantor Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
Lantai 19: Layanan Multimedia
Lantai 20: Layanan Koleksi Berkala Mutakhir dan Ilmu Perpustakaan
Lantai 21: Layanan Koleksi Monograf Terbuka (Klas 000-049)
Lantai 22: Layanan Koleksi Monograf Terbuka (Klas 500-999)
Lantai 23: Layanan Koleksi Mancanegara dan Majalah Terjilid
Lantai 24: Layanan Koleksi Budaya Nusantara dan Executive Lounge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/perpustakaan-nasional_20171113_070453.jpg)