Breaking News:

Waspadalah, Jakarta Peringkat Kedua Penyebaran Virus HIV di Indonesia

Jakarta menempati peringkat kedua penyebaran virus HIV terbanyak di Indonesia. Warga diingatkan untuk waspada.

Warta Kota
Ilustrasi 

WARTA KOTA, KRAMAT JATI-Perkembangan era digital saat ini memang cukup signifikan, namun perkembangan tersebut tidak didasari dengan pengunaan media sosial secara bijak.

Pasalnya saat ini banyak oknum-oknum yang menyalahkan gunakan media sosial sebagai tindakan yang melanggar hukum seperti penghinaan, hingga menyebarkan konten pornografi.

Terkait penyebaran konten pornografi banyak kasus-kasus asusila mulai beredar, bahkan hal tersebut tidak hanya dilakukan di wilayah Ibu Kota saja melainkan luar kawasan Jakarta.

Beberapa waktu lalu polisi melakukan pengrebekan pesta gay berkedok SPA, tentunya hal tersebut membuat bahwa saat ini perilaku menyimpang begitu sangat meresahkan.

Bahkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Koesmedi Priharto menyatakan jika DKI Jakarta berada di peringkat kedua se-Indonesia dalam penyebaran virus HIV.

Tentunya hal menjadi momok masyarakat bahwa tindakan asusila saat ini tidak hanya kaum lawan jenis tapi juga sesama jenis.

"Kita sama tahu bahwa DKI mempunyai angka HIV nomor dua di Indonesia dari 2009 hingga 2017 ini terdapat kurang lebih 46.768, sedangkan angka AIDS 8.769 penderita," kata Koesmedi, di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jumat (3/11/2017).

Koesmedi melanjutkan bahwa peningkatan penderita HIV justru bukan terjadi pada penularan jarum suntik, namun justru kaum sesama jenis.

"Kalo dulu penularan terbanyak dari jarum suntik tapi belakang ini, kasus tertinggi kelompok seksual LSL atau homosexual. Ini sangat tinggi sekali. Sebagi contoh dikelapa Gading itu ada 10 orang dibawa ke kami dan ternyata ada 8 postif HIV," katanya.

Untuk itu ia menghimbau kepada masyarakat yang terkena virus HIV bisa segera memeriksakan ke beberapa Rumah Sakit atau Puskemas, karena saat ini sudah ada beberapa puskesmas yang dapat menangani kasus seperti ini.

"Jangan khawatir identitas akan kita tutup dan pengobatan gratis," katanya.

Koesmedi beranggapan kebanyakan kasus disebabkan rasa malu, padahal ini tidak ada bedanya dengan penyakit lain seperti lain.

"Untuk itu kami mohon warga DKI apa bila mungkin merasa takut ada terinfeksi datang ke puskesmas rumah sakit yang bisa melakukan pemeriksaan dengan baik," katanya. (Joko Supriyanto)

Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved