Jusuf Kalla Sebut Go-Jek dan Grab Contoh Koperasi yang Bagus

Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai peningkatan ekonomi Indonesia harus dioptimalkan kembali lewat koperasi.

Jusuf Kalla Sebut Go-Jek dan Grab Contoh Koperasi yang Bagus
WARTA KOTA/DWI RIZKI
Wakil Presiden Jusuf Kalla di acara Breakfast Meeting yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tentang Prospek Ekonomi Indonesia 2018, di Hotel Aryaduta, Kamis (2/11/2017). 

WARTA KOTA, GAMBIR - Walau mengalami kenaikan dibandingkan 2016, Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai peningkatan ekonomi Indonesia harus dioptimalkan kembali lewat koperasi.

Karena, lewat koperasi, menurut JK, ekonomi dapat tercipta dan merata. Hal tersebut ditunjukkan lewat bisnis sejumlah operator transportasi online, seperti Go-Jek dan Grab saat ini. Menurutnya, perusahaan tersebut menjalankan semangat koperasi untuk menyejahterakan anggotanya.

"Seperti Go-Jek, Grab yang menurut saya adalah contoh koperasi yang bagus. Karena mereka bersama, dengan modal kecil, membangun perusahaan bersama hingga besar seperti sekarang ini," ujar JK, dalam acara Breakfast Meeting yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tentang Prospek Ekonomi Indonesia 2018, di Hotel Aryaduta, Kamis (2/11/2017).

Baca: Jusuf Kalla: Perekonomian Indonesia Sedikit Mengalami Kenaikan

Namun lanjutnya, kerja keras dan kerja bersama yang ditunjukkan anggota transportasi online, harus dibarengi dengan kepintaran. Karena itu, jajarannya kini terus mencoba peningkatan pendidikan serta kemampuan bekerja bagi generasi muda, agar dapat bersaing dalam ekonomi global masa mendatang.

"Tapi bekerja keras saja tidak cukup. Kita akui tidak ada yang bekerja lebih keras seperti petani atau pedagang, kita bekerja harus smart, tidak cukup dengan bekerja keras saja, harus pintar, harus baik," jelasnya.

"Semboyan kita yang kaya itu harus dijaga. Jika dibandingkan dengan negara Asia lainnya, kita memang lebih stabil, karena itu pendidikan terus kita ubah. Tapi jangan hanya tingkat pendidikan yang tinggi saja, tetapi skill (keahlian) juga harus mengikuti. Jangan sampai banyak lulusan perguruan tinggi, tetapi tidak dapat bekerja karena tidak memiliki skill," paparnya. (*)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved