Breaking News:

Masyarakat Membuang Waktu 22 Hari karena Kemacetan

Uber merilis hasil survei sepanjang Juli-Agustus 2017 terkait opini publik terhadap kepemilikan mobil, berbagi tumpangan serta kemacetan.

Rangga Baskoro
Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Rangga Baskoro

WARTA KOTA, MENTENG -- Uber merilis hasil survei sepanjang Juli hingga Agustus 2017 terkait opini publik terhadap kepemilikan mobil, berbagi tumpangan serta mengenai kemacetan dan sulitnya menemukan tempat parkir di kota-kota besar.

Survei dilakukan kepada 9.000 responden yang berumur di antara 18 hingga 65 tahun di 9 kota besar se-Asia diantaranya yakni Singapura, Kuala Lumpur, Jakarta, Manila, Hong Kong, Taipe, Hanoi, Ho Chi Minh dan Bangkok.

Head of Public Policy and Government Affairs, Indonesia, Uber, John Colombo mengatakan, rata-rata, warga di kawasan Asia-Pasfik terjebak kemacetan selama 52 menit di setiap harinya dan menghabiskan 26 menit untuk mencari lahan parkir.

Ini setara dengan lebih dari 19 hari per tahun.

Baca: Begini Respon Pengemudi Taksi Online Terkait Pemberlakuan Batas Tarif Atas dan Bawah

"Kondisi di Jakarta bahkan lebih buruk, Pengemudi mobil membuang waktu rata-rata selama 90 menit setiap harinya karena kemacetan (68 menit) serta parkir (21 hingga 30 menit). Setara dengan lebih dari 22 hari per tahun," kata John saat diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (1/11/2017).

John Colombo mengatakan, pemilik mobil menyatakan bahwa kesulitan terbesar bagi pemilik mobil antara lain terlalu banyak membuang waktu karena terjebak macet, yakni sebanyak 84 persen, Kesulitan menemukan lahan parkir sebanyak 60 persen dan tingginya biaya parkir yaknk sebesar 45 persen.

Warga kehilangan banyak kesempatan karena masalah parkir. Sebanyak 72 persen responden di Asia yang disurvei mengaku membuang-buang waktu atau terlambat untuk menghadiri sebuah acara penting.

"Sebanyak 74 persen responden di Jakarta juga melewatkan atau sangat terlambat menghadiri sebuah acara penting. Acara yang paling sering terlewatkan di Jakarta adalah pernikahan (53 persen), kontrol kesehatan dengan dokter (36 persen), wawancara kerja (27 persen di Jakarta), kedukaan (26 persen di Jakarta) dan konser musik (22 persen)," ungkap John Colombo.

Halaman
12
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved