VIDEO: Ribuan Wanita Ikut Papsmear Gratis

Ribuan perempuan ulu melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum memasuki bilik-bilik yang disediakan untuk menjalani tes IVA/Papsmear

WARTA KOTA, JAKARTA- Belakangan ini Rinda (27) dirundung rasa takut setelah menyaksikan derita yang dialami seorang anggota keluarganya yang terkena kanker serviks. Saudaranya yang bernama Andini itu terbaring di rumah sakit dalam waktu cukup lama.

Hari-harinya penuh kecemasan. Semangat hidupnya pun layu ketika ia mulai mengungkit kematian artis Julia Perez yang terjangkit kanker serviks. Ia pun sempat mewanti-wanti Rinda agar melakukan pemeriksaan untuk mengantisipasi adanya infeksi virus Human Papilloma Virus (HPV).

Atas alasan itu Rinda pun mencari informasi mengenai penyakit mematikan itu. Hingga akhirnya pada Senin (23/10) ia datang ke Kementerian Kesehatan di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Bahkan, ia rela mengantre bersama ribuan orang lainnya untuk menjalani tes IVA/Papsmear.

“Sebelumnya perempuan, termasuk saya, agak abai dengan potensi penyakit berbahaya ini. Tapi banyaknya kasus yang terjadi membuat kita takut. Jadi, saya pikir tidak ada salahnya melakukan pengecekan biar lega saja,” kata Rinda ditemui di Auditorium Siwabessy, Gedung Prof Dr. Sujudi, Kementerian Kesehatan.

Ribuan perempuan itu lebih dulu melakukan pemeriksaan kesehatan oleh para tenaga medis, sebelum memasuki bilik-bilik yang disediakan untuk menjalani tes IVA/Papsmear. “Mudah-mudahan hasil pemeriksaan baik-baik saja,” harap Rinda.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI, dr Mohamad Subuh menyatakan, upaya masif gerakan deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara dilakukan untuk menekan angka prevalensi yang pada tahun-tahun sebelumnya masih cukup tinggi.

“Pada riset yang dilakukan pada 2013, tingkat pravelansi penderita kanker serviks masih di angka delapan persen. Dengan upaya kampanye masif dan kegiatan deteksi dini seperti ini kami harapkan angkanya jauh berkurang,” jelasnya ditemui di lokasi.

Pemeriksaan yang dilakukan sejak Januari hingga Sempember 2017, kata Subuh sudah menjangkau 2,7 perempuan di berbagai pelosok Indonesia dengan tingkat prevalensi tertinggi 5,8 persen dan yang positif terjangkit HPV sekitar tiga persen. Hal ini berarti menurutnya, terjadi penurunan yang cukup baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Hari ini saja di acara ini ada 2000 orang mendaftarkan diri untuk menjalani tes IVA. Untuk bulan Oktober ini kami targetkan deteksi kanker serviks untuk satu juta perempuan Indonesia. Kami sudah arahkan lembaga kesehatan baik pemerintah maupun swasta untuk sukseskan program ini, termasuk menggandeng BPJS Kesehatan yang dalam datanya nilai tanggungan untuk kanker ini masuk dalam tiga besar dari total klaim yang dibayarkan, ” imbuhnya.

Baca: Aliansi Internasional Pembela Palestina Beri Penghargaan Atas Konsistensi Bantuan Indonesia

Sementara itu, berdasarkan data peserta BPJS Kesehatan secara nasional tahun 2016, jumlah kasus kanker serviks di tingkat pelayanan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL) mencapai 12.820 kasus dengan total biaya sekitar Rp56,5 miliar. Sementara di tingkat Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL), tercatat ada 6.938 kasus dengan total biaya sekitar Rp87,1 miliar.

Erika Verayanti Lumban Gaol S.farm. Apt, selaku Kepala Bidang Penjaminan Masyarakat Primer Cabang BPJS Kesehatan Cabang Jakarta Selatan menyatakan, pelaksanaan kegiatan deteksi dini melalui IVA/Papsmear ini merupakan salah satu upaya unggulanuntuk menekan prevalensi kanker serviks pada peserta JKN-KIS.

Untuk mewujudkan hal tersebut, BPJS Kesehatan menyediakan jaminan layanan deteksi dini kanker serviks kepada seluruh perempuan usia produktif yang telah menjadi peserta JKN-KIS baik di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama untuk pemeriksaan IVA Testdan Laboratorium yang bekerjasama untuk pemeriksaan Papsmear.

“Layanan pemeriksaan IVA/Papsmear ini dapat dijamin oleh BPJS Kesehatan, sehingga peserta JKN-KIS tidak perlu khawatir dengan biayanya. Jika setelah diperiksa dan peserta memerlukan penanganan lebih lanjut, maka akan dirujuk sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku,” terang Erika.

Sebagai informasi, kanker serviks tidak menimbulkan gejala dan sulit terdeteksi pada stadium awal, oleh karena itusebaiknya lakukan skriningkesehatan melalui layanan kesehatan deteksi dini yang disediakan BPJS Kesehatan.

“Kanker serviks umumnya baru terdeteksi ketika sudah stadium lanjut, di mana proses pengobatan yang harus dilakukan menjadi lebih sulit dan biaya pengobatannya pun menjadi lebih mahal.”

Namun dibandingkan dengan jenis kanker lainnya, kanker serviks sebetulnya paling mudah dicegah dan dideteksi. Caranya dengan melakukan deteksi dini dan pemberian vaksinasi. Pemeriksaan IVA/Papsmear merupakan metode pemeriksaan sederhana yang memiliki tingkat akurasi tinggi, aman serta nyaman bagi pasien

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Ahmad Sabran
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved