Korban Sodomi Pemuda Tuna Wicara Mau Melapor karena Ada 5 Bocah Lainnya Jadi Korban

Saat UR mengetahui bahwa ada lima bocah lainnya mengalami hal serupa, akhirnya dia berani melapor ke polisi.

Korban Sodomi Pemuda Tuna Wicara Mau Melapor karena Ada 5 Bocah Lainnya Jadi Korban
Totally Amazing
Ilustrasi orangtua korban awalnya enggan melaporkan peristiwa keji itu karena malu. 

WARTA KOTA, BEKASI -- Kepolisian Sektor Tambun, Kabupaten Bekasi masih menangani kasus dugaan sodomi yang dilakukan oleh pemuda tuna wicara, S (32) di Desa Setiamekar, Kecamatan Tambun Selatan.

Sampai Rabu (18/10/2017) petang, S masih diperiksa penyidik, meski komunikasi antar keduanya tersendat karena S menyandang sebagai tuna wicara.

Kepala Unit Reskrim Polsek Tambun Iptu Hotma Napitupulu mengatakan, awalnya orang tua korban UR (58) enggan melapor ke polisi karena merasa malu dengan kejadian itu.

Namun, saat UR mengetahui bahwa ada lima bocah lainnya mengalami hal serupa, akhirnya dia berani melapor ke polisi.

"Bocah laki-laki itu masih menjalani visum di RS Polri Kramatjati untuk menguatkan bukti laporan," kata Hotma pada Rabu (18/10/2017).

Hotma mengatakan, S diduga mencabuli seluruh korban dengan cara memaksa mereka nonton film porno yang disimpan di ponsel miliknya. Setelah itu, pelaku mulai meraba, kemudian membuka celana, lalu mencium sampai memasukan alat kelamin ke dubur korban.

"Untuk berapa kali aksinya masih didalami penyidik," ujarnya.

Sementara itu, salah satu keluarga korban, UR (58), mengaku tak terima putranya diperlakukan demikian oleh S. Dia berharap agar polisi menjatuhkan hukuman seumur hidup, sehingga kasus serupa tidak terulang kembali.

"Kalau bisa dihukum mati saja biar tak ada korban lain. Soalnya, saya yakin sekali korbannya masih banyak," kata UR.

UR mengatakan, kasus pencabulan ini telah mengubah perilaku anaknya menjadi pemurung, pendiam dan pelamun.

Padahal, sikap demikian sama sekali tidak pernah terlihat di hari-hari sebelumnya.

Belum lagi, beban mental yang harus diterima bila bertemu teman-temannya di sekolah. "Kadang saya suka sedih, tapi mau gimana lagi. Yang bisa saya lakukan hanya memberi semangat setiap hari," jelasnya.

Apabila terbukti, maka S bisa dijerat dengan Pasal 82 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 Tahun dan paling sedikit 3 tahun penjara.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved