Disalahkan DPRD Soal Keterlambatan Pengerjaan Underpass Matraman, Begini Penjelasan Kontraktor
DPRD DKI Jakarta kecewa dengan pengerjaan proyek underpass Matraman yang bakal terlambat rampung.
Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Theo Yonathan Simon Laturiuw
WARTA KOTA, GAMBIR -- DPRD DKI Jakarta kecewa dengan pengerjaan proyek underpass Matraman yang bakal terlambat rampung.
Semestinya proyek rampung pada 17 Desember 2017 mendatang. Tapi diperkirakan penyelesaian bakal terlambat.
Ketua Komisi D DPRD DKI, Iman Satria meninjau lokasi dan jadi marah, beberapa waktu lalu.
Iman tak percaya begitu saja terkait alasan adanya kabel milik PLN yang membuat terhambatnya pengerjaan.
Dia justru beranggapan itu hanya alasan yang dibuat-buat PT Jaya Konstruksi, kontraktor proyek tersebut.
Sebab proyek sudah berlangsung sejak awal tahun 2017.
Iman menyalahkan perencanaan kontraktor yang kurang mendetail di proyek tersebut.
Deputy Project Manager, PT Jaya Konstruksi di Proyek Pembangunan Underpass Matraman-Salemba, Jaliyul Masmaro, mengatakan kabel PLN yang menghambat pengerjaan memang benar dan tidak mengada-ada.
Kabel yang menghambat berkekuatan 150 kilovolt (KV). Jenisnya kabel minyak yang kini sudah tak dipakai lagi oleh PLN. Panjangnya 390 meter yang membentang di lokasi proyek.
"Jadi itu kabel tua. PLN sudah tak pakai kabel minyak lagi sekarang," kata Jaliyul ketika ditemui Wartakotalive.com, beberapa waktu lalu.
Fungsi kabel yang berada di proyek underpass Matraman-Salemba amat penting. Apabila rusak, listrik di sebagian Jakarta akan padam.
Jaliyul mengaku keberadaan kabel di lokasi proyek sudah diketahui sebelum pengerjaan dimulai.
"Ketika itu tim dari PLN sempat survei untuk mengetahui titik persis keberadaan kabel," ujar Jaliyul.
Diketahui kabel berada di sisi utara proyek, tetapi tak persis di lokasi proyek.
Lokasi pengerjaan borepile dan penggalian berada di tengah persimpangan matraman.
"Jadi awalnya diperkirakan lokasi kabel berada di tepi jalan," kata Jaliyul.
Tapi begitu pengerjaan borepile dimulai Maret 2017, ketakutan PLN muncul.
Borepile berupa pemancangan yang akan jadi tiang-tiang underpass.
Saat penggalian dilakukan di bagian tengah lokasi proyek, kontraktor rupanya menemukan kabel melintang.
Ketika itu pengerjaan sempat dihentikan dan didampingi PLN.
"Saat itulah diketahui kabel tua itu ternyata posisinya tak benar-benar dipinggir. Tapi ada juga yang melintang di lokasi proyek," kata Jaliyul.
Beberapa metode pernah dibicarakan untuk membiarkan kabel tetap disitu dan pengerjaan tetap berjalan.
Namun tak bisa dilakukan lantaran kabel minyak tua cenderung sensitif terhadap tekanan.
Makanya, kata Jaliyul, pihaknya terpaksa bekerja di lokasi dimana tak mengganggu kabel.
Hasilnya cukup baik sampai Oktober 2017. Dari total 1.948 borepile yang mesti dipasang, kini hanya kurang 65 titik lagi yang belum dipasang.
"Untuk sisi utara yang terganggu kabel, sisa tinggal 42 titik lagi," kata Jaliyul.
Tapi titik-titik dimana kabel berada sama sekali tak bisa lagi diakali. Satu-satunya jalan adalah menunggu pemindahan kabel oleh PLN.
Menurut Jaliyul, PLN kini sedang mengadakan lelang untuk proyek pemindahan kabel sepanjang 390 meter itu.
"Katanya paling cepat November 2017 bisa berjalan proyek pemindahan kabelnya. Tapi paling lambat Februari 2017," jelas Jaliyul.
Jaliyul mengaku sampai kini pihaknya tetap berusaha menepati tanggal deadline proyek pada 17 Desember 2017.
Tapi Jaliyul cukup yakin pula bahwa proyek akan terlambat penyelesaiannya.
Sebab ketika pemindahan kabel dilakukan pada November 2017, pihaknya tetap harus melakukan tahapan seperti seharusnya yang tak bisa selesai dalam 1 bulan 1 saja.
"Ini saja kita sudah kehilangan hari pengerjaan selama 70 hari. 2 bulan ini ya berarti," ujar Jaliyul.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20171015disalahkan-dprd-soal-keterlambatan-pengerjaan-underpass-matraman_20171015_190517.jpg)