Nuklir Korut Akan Berdampak ke Indonesia. Ini Antisipasinya

Bom nuklir hidrogen Korut yang kekuatannya melebihi bom atom di Hirosima dan Nagasaki Jepang pada Perang Dunia II bakal berdampak ke Indonesia.

Nuklir Korut Akan Berdampak ke Indonesia. Ini Antisipasinya
Infografis: Kompas.com/Laksono Hari W (Diolah dari CNN)
SEJUMLAH Uji coba nuklir Korea Utara. Uji coba bom nuklir terakhir pada September 2017, kekuatannya melebihi bom atom di Hirosima dan Nagasaki, Jepang pada Perang Dunia II. 

WARTA KOTA, MAKASSAR --- Uji coba bom nuklir yang diklaim Korea Utara (Korut) sebagai bom hidrogen yang kekuatannya melebihi bom atom di Hirosima dan Nagasaki Jepang pada Perang Dunia II ternyata akan berdampak ke Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Republik Indonesia Jazi Eko Istiyanto saat berkunjung ke Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (Unhas), Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (12/10/2017).

Baca: Wuiih, Bom Korut 10 Kali Lebih Dahsyat dari Bom Hiroshima!

Dengan begitu, Bapeten tengah mempersiapkan 126 stasiun pemantau radiasi nuklir di Indonesia. Tujuannya untuk mengantisipasi penyalahgunaan teknologi nuklir yang dapat membahayakan masyarakat.

"Rencananya kita akan memasang 126 RDMS (Radiation Data Monitoring System). Kenapa 126, karena itu (akan ditempatkan) di stasiun BMKG seluruh Indonesia. Daripada kita bangun salurannya sendiri, jadi numpang aja di BMKG. Karena BMKG juga itu sudah punya sistem yang dapat mendeteksi gempa dari percobaan nuklir Korea Utara," ungkapnya.

Baca: Korut Akan Balas AS dengan Guyuran Hujan Api

Jazi menjelaskan, tujuan dari pemasangan stasiun pemantau radiasi nuklir itu agar meminimalisasi dampak-dampak buruk yang dapat terjadi. Termasuk untuk memberi pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya nuklir.

"Kenapa kita pasang itu? Kami mau masyarakat menyadari, meskipun Indonesia tidak punya PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir), tapi ancaman itu bisa juga datang dari teroris nuklir," katanya.

Baca: Uji Coba Bom Hidrogen Korut Bikin Situasi Makin Panas

Jazi pun mengaitkan hal itu dengan serangan teror yang terjadi di Kota Bandung, Jawa Barat, pada Juli lalu yang dianggapnya hampir mengarah kepada bentuk serangan menggunakan senjata berbasis nuklir.

"Kalau baca berita yang di Bandung itu kan sudah menggunakan kaus lampu petromaks. Itu mengandung thorium, tapi kan gagal. Dalam dunia nuklir, unsur thorium bisa digunakan untuk membangkitkan kekuatan nuklir," tandasnya. (Kontributor Makassar, Hendra Cipto)

Artikel ini diunggah juga di Kompas.comAntisipasi Nuklir Korea Utara, Indonesia Bangun 126 Stasiun Pemantau Radiasi Nuklir

Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved