Isu Kebangkitan Komunis

Fakta Baru Forensik Dibongkar Dr Lim Joe Thay, 4 Kelamin Disunat 3 Tidak

Kondisi kemaluan para korban juga tertulis semuanya utuh. Buktinya bisa diketahui ada empat penis dikhitan dan tiga penis yang tidak.

Editor: Suprapto
intisarionline
dr. Lim Joe Thay 

Dokter Lim ingin anggota tim forensik melaporkan apa adanya seperti yang mereka temukan, meski akan menerima risiko.

Apalagi sebagai seorang dokter, mereka telah disumpah untuk melaporkan hasil medis apa adanya.

"Kita dipertemukan Tuhan di sini, sehingga saya yakin Tuhan pasti mau yang terbaik. Kita juga disumpah sebagai dokter, jadi kita tulis saja apa adanya," kata Lim seperti diceritakan kembali oleh dr. Djaja Surya Atmadja, dokter ahli forensik FKUI.

Bagi Djaja, sikap bekas gurunya itu sangat mengesankan.

Kebanyakan Tembakan dan Tusukan

Pada visum memang tertulis kondisi biji mata beberapa korban terlihat kempis dan keluar.

Tapi menurut Djaja hal itu disebabkan oleh pembusukan jenazah.

Berbeda jika mata sengaja dicungkil, karena pasti akan terdapat luka, tusukan, atau tulang yang patah di sekitar mata.

Kondisi kemaluan para korban juga tertulis semuanya utuh. Buktinya bisa diketahui ada empat penis dikhitan dan tiga penis yang tidak.

Tapi, tidak dijelaskan kelamin siapa saja yang dikhitan dan kelamin siapa yang tidak disunat.

Visum menggambarkan para korban umumnya terkena tembakan senjata api, yang menghasilkan luka tembak masuk dan luka tembak keluar.

Jenazah Achmad Yani luka tembaknya terbanyak, yakni 10 luka tembak masuk dan tiga luka tembak keluar.

Luka tembak Soetojo Siswomihardjo, S. Parman, dan D.I. Panjaitan, umumnya terdapat di kepala.

Pada jenazah P. Tendean, terdapat penganiayaan berat yang menyebabkan luka menganga pada puncak kepala dan dahi.

Kekerasan benda tumpul ditemukan pada jenazah Soetojo, S. Parman, dan R. Soeprapto.

Hanya jenazah M.T. Haryono yang tidak terdapat luka tembak, melainkan luka tusuk di bagian perut tembus ke punggung, serta di bagian tangan.

"Akibat ditusuk bayonet," kata Djaja menyimpulkan.

Djaja menyatakan, tidak perlu meragukan hasil kerja tim dokter yang mengautopsi korban G30S.

Saat itu mereka orang-orang yang berkompeten dalam ilmu kedokteran kehakiman, yang kini istilahnya kedokteran forensik.

Meski sudah terkubur empat hari, jenazah juga masih dapat diidentifikasi dengan baik.

"Sudah puluhan tahun meninggal saja tetap bisa diidentifikasi kok," kata ahli DNA yang pernah mengidentifikasi kerangka tentara Jepang yang mati di Papua pada Perang Dunia II ini.

Mungkin pertanyaan yang timbul saat ini, kata Djaja: mengapa tidak dilakukan autopsi dalam lewat pembedahan?

Jawabannya, karena perintah hanya sebatas itu. Dokter tidak berhak melanggar.

Termasuk ketika Lim menemukan anak peluru sepanjang 4,7 mm. Benda itu diserahkannya kepada Soeharto.

Sebenarnya jika ingin dilakukan proses pemeriksaan balistik, dapat diketahui asal senjatanya.

Membuat Putri Jenderal Marah

Putra ketujuh Jenderal Ahmad Yani, Untung Yani (Kiri) bersama putra kedelapan, Eddy Yani (Kanan), berbincang dengan pengunjung di halaman depan Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Jenderal TNI A Yani, di Jalan  Lembang No 58, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (21/9/2017).
Putra ketujuh Jenderal Ahmad Yani, Untung Yani (Kiri) bersama putra kedelapan, Eddy Yani (Kanan), berbincang dengan pengunjung di halaman depan Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Jenderal TNI A Yani, di Jalan Lembang No 58, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (21/9/2017). (TRIBUNNEWS/FRANSISKUS ADHIYUDA)

Salah satu anggota tim forensik yang berusaha membeberkan apa yang sebenarnya terjadi pada para jenderal yang menjadi korban G30S adalah dr. Lim Joe Thay.

Lim tak pernah risau karena puluhan tahun tidak bisa mengungkapkan kebenaran.

Ia masih bisa bercerita pada murid-muridnya di bangku kuliah kedokteran forensik.

Terkadang ia prihatin, karena ada bagian keping sejarah yang salah dan tak pernah berusaha diluruskan, tapi terus beredar di masyarakat.

Meski sudah beberapa media mencoba mengungkap kasus tersebut, tapi tidak ada upaya sungguh-sungguh dari pemerintah untuk meluruskannya.

Tapi, suatu saat Arsip Nasional RI pernah menghubunginya untuk meminta konfirmasi terkait apa yang dia dapat di bangsal forensik malam itu.

Lim termasuk yang paling keras soal laporan ini. Ia menuliskan apa yang didapat meski “tak berguna” karena tekanan rezim.

Laporannya baru benar-benar terpakai saat seorang Indonesianis dari Cornell University, Benedict Anderson, saat menulis “How Did the Generals Die?” yang ia muat di jurnal Indonesia pada 1987.

Akibat kegigihannya itu, Lim juga pernah ditelepon oleh salah satu putri korban.

Lim dimarah-marahi karena dianggap berusaha menghilangkan kenyataan telah terjadi penyiksaan terhadap para jenderal.

Lalu munculnya quote sakti itu dari dr. Lim, “Meluruskan fakta sejarah tidak akan mengurangi derajat kepahlawan para Pahlawan Revolusi.”

Belakangan, Lim baru mengetahu kenapa putri jenderal itu marah, karena si putri membaca sebuah artikel majalah yang keliru mengutip kalimat Lim.

Akibatnya, Lim kena semprot. (Moh Habib Asyhad )

Artikel tayang di intisari.grid.id: Mengurai Fakta Peristiwa G30S dari Bangsal Forensik: Tidak Ada Pencungkilan Mata Seperti dalam Film

Sumber: Intisari
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved