Sekjen PP ISNU ini Menulis: Isu Kebangkitan PKI Cuma Dagangan Politik

Sekjen Pengurus Pusat Ikatan Sarjana NU ini menyatakan tidak percaya PKI akan bangkit. Ia menilai isu PKI hanyalah dagangan politik.

Editor:
Antaranews.com
Presiden Joko Widodo (kedua kiri, berjaket merah) didampingi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kiri) berrsama para perwira dan prajurit TNI dan Polri beserta warga menonton film 'Pengkhianatan G30 S/PKI' di lapangan tenis indoor Markas Korem 061 Suryakencana Bogor, Jawa Barat, Jumat (29/9/2017) malam. (ANTARA/Setpres/Laily Rachev) 

Di Indonesia, ia menilai petanya jelas sekali. Setelah sukses memenangi Pemilihan Gubernur DKI, ia melihat politik Islam bersiap-siap menyongsong Pilpres 2019. Banyak di antara pendukung Gubernur DKI terpilih ia pandang yakin bahkan haqqul yaqin Jokowi adalah keturunan PKI.

Seperti pola di belahan dunia lain pada masa lalu, menurutnya, isu Pilpres 2019 adalah Islam lawan komunisme. Sekarang baru pemanasan. Lantas siapa yang dianggap representasi Islam? Siapa yang dianggap wakil PKI?

Dalam politik, wakil Islam tidak harus mengerti Islam. Yang penting, dia mendengungkan aspirasi kelompok Islam. NU adalah pelaku sejarah yang tidak akan mengikuti agenda seperti ini.

"NU cinta NKRI, cinta Islam, dan cinta Indonesia," tutup Kholid.

Hasil survei
Antaranews menurunkan lagi hasil survei yang dilakukan lembaga penelitian Saiful Mujani Research Consulting (SMRC) yang juga menyatakan mayoritas warga tidak percaya komunisme bangkit.

Survei ini dilakukan terhadap 1.057 responden melalui wawancara tatap muka, dengan margin error 3,1 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Menurut SMRC, 86,8 persen responden atau hampir semua warga tidak setuju bahwa sekarang sedang terjadi kebangkitan PKI di Tanah Air.

Warga yang menyatakan setuju bahwa sekarang sedang terjadi kebangkitan PKI hanya 12,6 persen responden.

Sedangkan yang yakin kebangkitan PKI telah mengancam negara hanya sekitar lima persen dari populasi dewasa nasional.

SMRC mencermati opini masyarakat tentang ada kebangkitan PKI cukup beririsan dengan pendukung Prabowo, dan dengan beberapa pendukung partai politik, terutama PKS dan Gerindra.

Di samping itu, opini tentang kebangkitan PKI cenderung lebih banyak di kalangan muda, perkotaan, terpelajar, dan sejumlah daerah tertentu, terutama Banten, Sumatera, dan Jawa Barat.

Semua demografi ini beririsan dengan pendukung Prabowo. Harusnya yang lebih tahu bahwa sekarang sedang terjadi kebangkitan PKI lebih banyak di kalangan warga yang lebih senior sebab mereka lebih dekat masanya dengan masa PKI hadir di pentas politik nasional (1945-1966) dibanding warga yang lebih junior (produk masa reformasi).

Hal itu menunjukkan bahwa opini kebangkitan PKI di tengah masyarakat tidak terjadi secara alamiah, tetapi hasil mobilisasi opini kekuatan politik tertentu, terutama pendukung Prabowo, mesin politik PKS dan Gerindra.

Bila keyakinan adanya kebangkitan PKI itu alamiah, keyakinan itu akan ditemukan secara proporsional di pendukung Prabowo maupun Jokowi, di PKS, Gerinda, dan partai-partai lain juga.

Gejala hasil mobilisasi itu juga terlihat pada warga yang cenderung punya akses ke media massa, terutama media sosial.

Di bagian lain, secara politik, isu kebangkitan PKI tidak penting karena tak dirasakan adanya oleh hampir semua warga.

Isu kebangkitan PKI yang ditujukan untuk memperlemah dukungan rakyat pada Jokowi tampaknya bukan pilihan isu stategis yang berpengaruh. (antn/wip)

Sumber:
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved