Sekjen PP ISNU ini Menulis: Isu Kebangkitan PKI Cuma Dagangan Politik

Sekjen Pengurus Pusat Ikatan Sarjana NU ini menyatakan tidak percaya PKI akan bangkit. Ia menilai isu PKI hanyalah dagangan politik.

Editor:
Antaranews.com
Presiden Joko Widodo (kedua kiri, berjaket merah) didampingi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kiri) berrsama para perwira dan prajurit TNI dan Polri beserta warga menonton film 'Pengkhianatan G30 S/PKI' di lapangan tenis indoor Markas Korem 061 Suryakencana Bogor, Jawa Barat, Jumat (29/9/2017) malam. (ANTARA/Setpres/Laily Rachev) 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Isu kebangkitan PKI dinilai hanyalah dagangan politik semata. Pasalnya, jika mau jujur, ideologi komunisme sudah tidak laku, tidak ada peminatnya, apalagi di kalangan generasi milenial.

Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama, M Kholid Syeirazi, dalam tulisannya yang berjudul "Tentang Isu Kebangkitan PKI", menyatakan tidak percaya PKI akan bangkit.

Ia bertanya, apakah gampang menjadi komunis. Prinsip komunisme, tuturnya, from each according to his ability, to each according to his needs atau aslinya dalam bahasa Jerman, jeder nach seinen Fehigkeiten, jedem nach seinen Bederfnissen.

Dalam bahasa Indonesia kalimat itu kurang lebih berbunyi, "Setiap orang memberi sesuai dengan kemampuannya, setiap orang mendapat sesuai kebutuhannya".

Contoh mudahnya, ujarnya, jika Anda doktor, lulus S-3 luar negeri, tidak usah pamer ijazah. Jika anak Anda cuma satu, Anda tak berhak mendapat bayaran lebih tinggi daripada tukang parkir lulusan SMP yang anaknya lima. Itu adil dalam perspektif komunisme.

Atas dasar prinsip komunisme yang "sama rata, sama rasa" itu, Kholid yakin ideologi komunisme usang sudah tidak laku lagi.

Komunisme, kata Kholid, punya mimpi, 'kaya bersama atau miskin bersama'. Padahal, tegasnya, dalam kehidupan ini tidak ada masyarakat yang bisa tumbuh dan berkembang jika tidak ada kompetisi. Tanpa kompetisi, tidak ada inovasi, tidak ada kreativitas, tidak ada kemajuan.

Kompetisi, tutur Kholid, adalah kodrat manusia. Islam juga mengajarkan orang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Akan tetapi, kompetisi juga harus tandem dengan koperasi. Ini merupakan ajaran tawassuth dalam Islam yang tercermin dalam pasal 33 UUD 1945.

Kholid mengatakan, ajaran komunisme yang utopis tidak pernah ada dalam praktik sejarah. Di Uni Soviet, Lenin mendirikan negara sosialis. Ajaran Karl Marx dimodifikasi menjadi: setiap orang memberi sesuai dengan kemampuannya, setiap orang mendapat sesuai dengan prestasinya.

Dikemukakan pula, "Di sini kerja orang dihargai. Hasrat untuk maju tumbuh. Orang tidak perlu sama-sama miskin. Orang boleh kaya, tetapi jangan terlalu timpang. Ini pun tidak bertahan karena kendali negara terlalu kuat. Orang gerah, tidak bisa kreatif, tidak bebas ekspresi. Uni Soviet tumbang, Tembok Berlin jebol".

Sosialisme-komunisme kandas. Sejarah usai, kapitalisme berjaya, kata Fukuyama. Komunisme tinggal nama. Tidak ada negara komunis. Yang ada adalah negara otoriter dengan sistem politik tertutup tetapi propasar, seperti Republik Rakyat China.

"Saat ini ada sejumlah pihak yang menganggap China alias Tiongkok itu komunis. Oleh karena itu, Jokowi yang akrab dengan China disebut pula sebagai antek komunis."

Kholid menegaskan, pemikiran semacam itu hanya patut ditertawakan saja. RRC itu negara kapitalis yang dimodifikasi. Karena sistem politiknya tertutup, porsi negara besar.

Halaman
1234
Sumber:
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved