Rabu, 29 April 2026

Hari Batik Nasional

2 Oktober Hari Batik Nasional, Beginilah Sejarah Batik yang Sesungguhnya

Saat membuat batik, lilin batik diaplikasikan pada kain untuk mencegah penyerapan warna pada proses penyerapan.

Tribun Jogja
Ketua Paguyuban Kampung Wisata Langenastran Ir. Sumartoyo Suharto saat menjelaskan kain batik tertua yang dibuat oleh Ibunda HB VIII dalam gelaran Batik and Batok Night 2016 pada Sabtu (15/10/2016). (Tribun Jogja/ Ikrar Gilang) 

WARTA KOTA, BOGOR - Di Jawa, batik terdiri dari dua rangkaian kata, yakni amba dan tik. Amba berarti menggambar atau menulis, sedangkan tik berasal dari kata titik.

Hambatik atau ambatik diartikan sebagai menggambar titik-titik pada sebuah benda.

Pengertian tersebut sudah sesuai dengan kesepakatan Konvensi Batik Internasional yang diselenggarakan di Yogyakarta tahun 1997.

Dalam pertemuan tersebut, batik didefinisikan sebagia proses penulisan gambar atau ragam hias pada media apapun dengan menggunakan lilin batik (wax/malam) sebagai alat perintang warna.

Saat membuat batik, lilin batik diaplikasikan pada kain untuk mencegah penyerapan warna pada proses penyerapan.

Tribunstyle melansir dari Kompas.com, seni pewarnaan dengan teknik perintang ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola.

Di Asia sendiri, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok pada masa Dinasti Tang (618-907) serta di India dan Jepang pada pasa Periode Nara (645-794).

Namun, perkembangan paling pesat untuk teknik menghalangi warna demi menciptakan bola adalah di Indonesia.

Batik Nusantara dipercaya sudah ada sejak zaman Majapahit. Setelah itu, batik berkembang di berbagai tempat dalam pola yang beragam.

Bila kamu melihat arca atau relief kuno di Jawa, kamu akan mendapati bukti keberadaan batik di Indonesia sejak lama.

Pola-pola batik seperti pada arca Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan dari abad ke-13 yang ditemukan di Jawa Timur memperlihatkan detil pakaian berpola sulur tumbuhan dan kembang-kembang yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa.

Menurut beberapa peneliti, kerumitan seperti itu hanya bisa dihasilkan dengan menggunakan canting.

Artinya canting sebagai alat pembatik sudah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau sebelumnya, dan bisa jadi alat itu memang muncul di Jawa.

Hari Batik

Walau teknik membatik kemungkinan diperkenalkan oleh India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7, faktanya seni ini berkembang pesat di Indonesia.

Catatan soal munculnya bati di Jawa sendiri tidak begitu banyak. Jadi, sangat sulit untuk menentukan siapa yang memulainya.

Yang jelas, batik di Indonesia berkembang dalam berbagai ragam dan pola.

Tentunya, hal itu dipengaruhi oleh kebudayaan masing-masing daerah. Misalnya saja batik pesisir di Cirebon dan Pekalongan.

Pola dan ragam dalam batik tersebut menyerap berbagai pengaruh dari para pedagang asing dan orang-orang luar yang berhubungan dengan masyarakat pesisir.

Warna cerah dan pola burung merak dalam batik tersebut merupakan pengaruh dari budaya Tiongkok.

Sementara batik Yogyakarta atau Solo kebanyakan tidak menggambarkan benda, tumbuhan, atau hewan secara langsung.

Namun, lebih menggambarkan simbol dari benda-benda tersebut.

Warna batik dari kedua tempat itu juga lebih kalem, tidak semeriah batik-batik pesisir.

Karena perkembangan dan keragaman itu, batik Indonesia ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO.

Badan dunia itu memasukkan batik dalam Daftar Representatif Budaya Tak benda Warisan Manusia. Dan itulah sebabnya mengapa tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional.

Membedakan Batik Manual dan Printing

Pada teknik manual, kamu akan menemukan motif atau garis yang tidak konsisten besar kecil bentuknya karena malam yang luber.

Di bagian belakang kain juga ada sisa-sisa pengerjaan seperti warna yang tembus atau lainnya.

Sementara untuk batik cetak atau printing, motifnya akan terlihat sangat halus dan rapi.

Pada bagian belakangnya tidak terlihat adanya bekas warna alias mulus.

Walau terlihat lebih indah, tapi batik printing harganya jaduh lebih murah karena merupakan cetakan mesin,

Meski demikian, untuk mata awam, beberapa batik printing sulit dibedakan dari batik asli karena dibuat menggunakan pola batik aslinya, sehingga beberapa “kesalahan” tercetak pula dalam kain tersebut, dan dibutuhkan kejelian saat membedakannya.

Oleh karenanya, bila di Hari Batik ini kamu ingin merayakan budaya batik dengan mengenakan batik, maka pastikan yang kamu pakai adalah batik, bukan kain bermotif batik. (Tribunstyle)

Sumber: TribunStyle.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved