Isu Kebangkitan Komunis

Terungkap, CIA yang Menjadi Dalang Agar Bung Karno Terlibat G30S

Pihak AS yang saat itu keteteran di medan perang Vietnam juga mulai mengkhawatirkan perkembangan politik di Indonesia

Kompas.com
Bung Karno diapit dua jenderal Angkatan Darat, AH Nasution (kiri) dan Soeharto. Ketiganya tertawa lebar saat bertemu di Istana Merdeka, Jakarta, tahun 1966. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Pasca Perang Dunia II (1945) pasukan Uni Soviet dan Sekutu yang sukses menghancurkan Nazi Jerman saling merayakan kemenangan secara bersama bak dua sahabat karib.

Tapi hubungan persahabatan itu mendadak buyar ketika kedua negara, Uni Soviet yang kemudian membentuk kekuatan Blok Timur dan AS serta sekutunya yang membentuk Blok Barat, mulai terlibat perang ideologi antara komunis dan kapitalis sehingga memicu perang gaya baru yang disebut sebagai Perang Dingin.

Perang Dingin yang diwarnai oleh perlombaan senjata pemusnah massal (nuklir) dan rebutan pengaruh di kawasan Asia dan Eropa pun mulai menciptakan peperangan baru.

Perseteruan berdarah antara Blok Barat dan Blok Timur tidak hanya melibatkan bentrokan bersenjata antara militer seperti yang berkecamuk di Perang Korea, Perang Vietnam, konflik Jerman Barat dan Timur, dan lainnya tapi juga pertarungan antara dunia intelijen khususnya KGB vs CIA.

Pihak AS yang saat itu keteteran di medan perang Vietnam juga mulai mengkhawatirkan perkembangan politik di Indonesia karena pemerintahannya yang dipimpin oleh Presiden Soekarno tampak lebih condong ke pihak komunis Rusia (Blok Timur).

Kekhawatiran pemerintah AS cukup beralasan karena pada hasil pemilu tahun 1955 yang berlangsung di Indonesia menunjukkan bahwa kekuatan Partai Komunis Indonsia (PKI) cukup besar (16,4%), sementara Partai Nasional Indonesia (PNI) mendapat suara 22,3%, Majelis Syuro Moeslimin Indonesia (Masjoemi ) 20,9%, dan Nahdhlatoel Oelama (NO) 18,4%.

Secara politis kekuatan yang dimiliki oleh PKI itu menurut penilaian intelijen AS akan sangat berbahaya bagi perkembangan ideologi komunis di Asia Tenggara.

Apalagi dalam perkembangan berikutnya, pandangan politik Presiden Soekarno makin menunjukkan sikap anti Amerika dan lebih condong mengakrabi Uni Soviet.

Sikap anti Amerika dari Presiden Soekarno rupanya sengaja ditunjukkan karena AS jelas-jelas mau memanfaatkan Indonesia sebagai bemper bagi pengaruh komunis dari Soviet dan China.

Presiden Soekarno yang sangat nasionalis memang akan cepat marah jika kedaulatan negara yang dipimpinnya diinjak-injak negara lain.

Untuk mencegah wilayah Indonesia jatuh ke tangan komunis, pemerintah AS yang saat itu dipimpin oleh Presiden Dwight Eisenhower langsung menerapkan strategi intelijen keras.

Unsur kekuatan yang diturunkan untuk melancarkan aksi “perang melawan komunis” di Indonesia melibatkan para agen rahasia CIA dan secara diam-diam didukung oleh militer AS.

Pengerahan kekuatan militer AS yang dalam kondisi siap tempur dan digelar di kawasan Pasifik, Singapura, dan Filipina itu jelas menunjukkan bahwa militer AS juga siap menginvasi kawasan Indonesia jika waktunya telah tiba.

Target operasi rahasia CIA saat itu ada dua macam, pertama membunuh Presiden Soekarno dan kedua menciptakan instabilitas dengan cara memperalat serta mempersenjatai unsur-unsur kekuatan di berbagai daerah yang akan melancarkan pemberontakan.

Halaman
12
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved