Teroris Pakai Media Sosial untuk Kumpulkan Dana

Dari pengalamannya selama ini, jumlah paling besar yang ditransfer kelompok teror mencapai 1.000 dolar Amerika Serikat (AS).

Teroris Pakai Media Sosial untuk Kumpulkan Dana
Tribunnews.com
Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius 

WARTA KOTA, GAMBIR - Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Kiagus Ahmad Badaruddin mengatakan, mengendus pendanaan untuk kelompok teror bukanlah hal yang mudah.

Sebab, mereka akan berusaha semaksimal mungkin agar uang mereka tidak terendus.

Kepada wartawan dalam acara peluncuran buku putih pemetaan tindak pidana terorisme di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Rabu (27/9/2017), Kiagus mengatakan umumnya uang yang mereka transfer melalui fasilitas bank konvensional, dan jumlahnya tidak besar.

"Nilainya rata-rata kecil, tapi saya bilang bahwa tipikalnya itu pertama biasanya bersumber dari (sumber) legal, tersamar. Bisa saja itu hasil mencari uang dari luar, kemudian jumlahnya kecil-kecil, dan kadang-kadang dia menggunakan cara pengiriman di luar kelaziman dari pola pengiriman biasanya," ungkap Kiagus.

Baca: Lima Polisi Periksa Rizieq Shihab di Arab Saudi pada 27 Juli 2017

Dari pengalamannya selama ini, jumlah paling besar yang ditransfer kelompok teroris mencapai 1.000 dolar Amerika Serikat (AS).

Uang tersebut akan bermuara pada satu rekening yang tidak mencurigakan.

Kemudian, uang akan dipindahkan ke rekening lain, juga dengan cara yang tidak jauh berbeda, untuk mengelabui penegak hukum.

"Dana itu kecil-kecil, tapi nanti bermuara ke satu tempat," katanya.

Salah satu cara PPATK mengendus uang tersebut, adalah mengidentifikasi sang pemilik rekening.

Melalui data yang diserahkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), PPATK bisa mengendus sang pemilik rekening yang terlibat kelompok teror, dan kemudian membekukannya.

Baca: Jusuf Kalla: Politik Selalu Ada Perbedaan Cara, tapi Tujuan Tidak

Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius dalam kesempatan yang sama menambahkan, saat ini tren yang berkembang dalam mengumpulan dana untuk kegiatan terorisme, adalah melalui media sosial.

Cara tersebut juga digunakan untuk mengumpulkan dana bagi seorang Warga Negara Indonesia (WNI), pergi berperang ke daerah konflik.

"Tren baru ini menggunakan media sosial, serta pendanaan mandiri bagi para FTF (Foreign Terrorist Fighter). Pengumpulan dana untuk terorisme tidak lagi menggunakan non-profit organization (organisasi nirlaba) atau perampokan," paparnya. (*)

Penulis: z--
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved