Breaking News:

Ternyata Gejala Pernikahan Anak Tak Hanya Terjadi di Pedesaan tetapi Juga di Perkotaan

Fenomena pernikahan usia anak atau kurang dari 18 tahun ternyata tidak hanya terjadi di pedesaan tetapi juga terjadi di kawasan perkotaan.

Editor:
Change.org
Ilustrasi kampanye -- Katakan 'Tidak!' pada Pernkahan Anak! 

WARTA KOTA, MATRAMAN -- Fenomena pernikahan usia anak atau usia kurang dari 18 tahun ternyata tidak hanya terjadi di kawasaan perdesaan tetapi juga di kawasan perkotaan.

Gejala tersebut disampaikan oleh konsultan Keluarga Berencana pada Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dr Julianto Witjaksono, SpOG (KFER), MGO dan Child Marriage Program Manager Plan International Indonesia, Amrullah di Jakarta, Rabu (27/9/2017).

Namun baik Julianto maupun Amrullah tidak memberikan angka atau data mutakhir tentang fenomena pernikahan anak di perkotaan sebagaimana mereka sebutkan.

Ilustrasu mengapa perkawinan anak harus ditolak
Ilustrasu mengapa perkawinan anak harus ditolak (hukumpedia.com)

Julianto hanya menyebutkan bahwa di pedesaan, munculnya fenonema ini terkait dengan kondisi sosial dan ekonomi keluarga, di perkotaan fenomena ini berkaitan dengan ketahanan keluarga yang rapuh.

"Di desa (ketika) anak-anak perempuan sudah (mengalami) menstruasi, (sementara) orangtua terlilit utang, (mereka) siap melepaskan anak gadis (mereka) untuk melepaskan tekanan," ujar Julianto.

Sementara di perkotaan, menurut dia, ada faktor-faktor di luar masalah sosial ekonomi. Salah satunya adalah ketahanan keluarga.

"Keluarga sangat sibuk. Tidak ada waktu untuk anak, (tidak ada waktu) mengikuti kegiatan anak, menyebabkan anak terpapar media sosial," imbuh Julianto yang juga spesialis obstetri ginekologi itu.

Temuan serupa juga dikemukakan oleh pegiat pada Plan International Indonesia, Amrullah. Data Plan menunjukkan, tren pernikahan di perkotaan terjadi di masyarakat kelas bawah.

"Kelas bawah di perkotaan sulit terkontrol. Orang-orang pindah dari desa, menikah di Jakarta. Orang-orang ini membawa nilai dari daerah asalnya. Ada istilah, di desa tidak nikah di kota bisa. Ada kecenderungan seperti itu," tutur Amrullah.

Dia juga menyampaikan, gaya hidup yang berisiko tinggi seperti seks bebas menjadi salah satu penyebabnyaa. Anak-anak imi cenderung senang melakukan perilaku berisiko ini.

"Ada kasus di pengadilan. (Seorang anak perempuan) hamil lalu dibawa ke pernikahan. Demand-nya dari lifestyle. Risky behavior tinggi di tingkat perkotaan," ujarnya.

"Risky behavior bisa dari sisi kesehatan, sosial, budaya, macam-macam. Anak-anak muda senang melakukan risky behavior, ujarnya seraya memberikan contoh.

"Contoh, anak bertukar jarum suntik. Anak di usia muda berani merokok dan bukan anak laki-laki lagi. Anak-anak sudah berani meninggalkan keluarga. Ini tren," ujar Amrullah.

Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved