Pengelolaan Parkir di Ruko Moderland Mencekik Puluhan Pedagang
Pedagang di Moderland Tangerang Nyaris Bangkrut Lantaran Pengelolaan Parkir
WARTA KOTA, TANGERANG - Puluhan pedagang yang berada di pusat pertokoan Ruko Modern Walk, Modernland, Kota Tangerang tengah dilanda kerisauan.
Mereka nyaris bangkrut lantaran sistem pengelolaan parkir yang diterapkan di lokasi tersebut.
Hal itu diungkapkan langsung oleh penjual Pempek Gama, Sudarmin.
Dengan diterapkannya pengelolaan parkir baru, pendapatan para pedagang ini turun drastis.
Mereka juga protes keras adanya pungutan liar dengan modus parkir berbayar yang ditempatkan di area pertokoan.
Sudarmin yang sudah dua tahun berjualan di area pertokoan itu mengaku kehilangan omset hingga 50 persen sejak ditempatkan parkir berbayar tersebut.
"Omzet harian saya anjlok setiap harinya antara 30 sampai 50 persen," ujarnya saat ditemui di area pertokoan Modern Walk, Modernland, Kota Tangerang pada Rabu (27/9/2017).
Hal senada diungkapkan oleh Albertus Axel.
Pedagang Ayam Goreng Nusantara, yang berada di Modern Walk Nomor 23-25 Modernland, mengakui kehilangan omzet harian hingga Rp. 4 juta setiap harinya.
"Saya hilang antara 3 sampai 4 juta rupiah setiap hari, sejak diterapkan parkir berbayar ini," ucap Albertus.
Mereka berharap, pengembang Modernland bisa membatalkan parkir berbayar yang diterapkan saat ini.
"Kami merasa semua kehilangan omset, masalahnya bukan pada beban bayar, tapi ini dipagari," katanya.
Albertus bersama puluhan pedagang lain yang ada di area pertokoan itu menyebutkan, sudah tiga kali menemui pihak pengembang. Namun hingga kini tak juga ada tanggapan.
"Setiap bertemu hanya janji - janji manis saja, tidak ada tindak lanjutnya. Sudah tiga kali kami temui bagian estate management modern land," ungkap Albertus.
Puluhan pelaku usaha ini menolak keberadaan parkir berbayar yang diterapkan sejak 1 September 2017 itu. Tertulis PT Laurendo Jaya Sentosa selaku pengusaha yang menarik tarif parkir di area pertokoan itu.
"Dari awal semua pengelola usaha di sini telah menolak adanya parkir berbayar, usaha komunikasi kami dengan pengembang juga buntu," tambah Rochi, pemilik toko Comunity Cafe di Moderland.
Merasa protesnya tak juga digubris, para pedagang juga memasang spanduk penolakan di depan ruko yang mereka tempati.
"Aksi kami juga sempat mendapat perlawanan, karena spanduk yang kami pasang akhirnya dicopot orang tak dikenal pada malam harinya," imbuhnya.
Iwan, pengunjung ruko mengaku merasa terbebani dengan adanya parkir berbayar yang ditempatkan di area tersebut.
Menurutnya, penerapan tarif parkir juga tak terinformasi secara jelas.
"Saya sih jadi repot saja, karena biasa beli makan di sini buat teman - teman di kantor. Saya rasa tarif parkirnya juga terlalu mahal," tutur Iwan yang merupakan office boy di salah satu kantor di kawasan Modern Land itu.
"Setiap kali diperintah untuk membeli sesuatu, terpaksa memarkirkan kendaraanya di luar area parkir toko. Kalau masuk ke dalam jauh banget," paparnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20170927-moderland-tangerang_20170927_162532.jpg)