Meski Belum Ada Hewan Turun Gunung Agung, Tanda-tanda Ini Sudah Cukup Bikin Warga Mengungsi
Ni Kadek Piri (41) bersimpuh di Aula Sri Radha Kunjavihari Ashram, Desa Paksebali, Klungkung, Bali, Kamis (21/9/2017).
WARTA KOTA, BALI - Ni Kadek Piri (41) bersimpuh di Aula Sri Radha Kunjavihari Ashram, Desa Paksebali, Klungkung, Bali, Kamis (21/9/2017).
Belasan kantong plastik yang berisi pakaian dan mi instan berjejer di sekitarnya. Ni Kadek Piri merupakan warga Dusun Pura, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem, yang mengungsi ke Klungkung karena khawatir dengan meningkatnya aktivitas Gunung Agung.
Selain bersama kedua anaknya, Ni Kadek Piri mengungsi bersama suaminya, Wayan Sujana (42) dan mertuanya, Ni Ketut Kembang.
Baca: Terakhir Kali Ngamuk pada 1963, Gunung Agung Meletus Hampir Setahun
“Kita mengungsi sejak Selasa (19/9/2017) malam, karena khawatir dan takut. Hampir setiap malam kami rasakan gempa. Kami khawatir jika Gunung Agung nanti meletus,” ungkap Ni Kadek Pari sembari merapikan sejumlah pakaian miliknya.
Ni Kadek Piri dan keluarganya benar-benar merasa khawatir setelah merasakan keanehan di lingkungannya.
Selain lebih sering merasakan gempa, ia mengungkapkan bahwa suhu di Desa Sebudi yang berjarak sekitar 3 kilometer dari kawah Gunung Agung, terasa lebih panas dari biasanya.
Baca: Rasakan Tanda-tanda Alam Seperti 1963, Warga Lereng Gunung Agung Mulai Mengungsi
“Walaupun belum ada tanda hewan turun dari Gunung, tapi kami merasakan suhu itu lebih panas dari biasanya. Kami khawatir kalau terjadi apa-apa. Kami lebih memilih untuk mengungsi. Kebetulan suami saya bakta di ashram ini,” tuturnya.
Ia menyebutkan, sudah hampir 75 persen warga di Desa Sebudi mengungsi ke Klungkung dan wilayah Rendang.
“Gempa itu rasanya beda. Rasanya naik dan turun, ini yang membuat kami dan warga lainnya khawatir,” ungkapnya. (Eka Mita Suputra)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/gunung-agung_20170919_155650.jpg)