Diskusi Radikalisme, Mahasiswa ini Pertanyakan Perkembangan Penggunaan Cadar di Era Reformasi
Dialog Pelibatan Lembaga Dakwah Kampus dan Birokrasi Kampus dalam Pencegahan Terorisme di Universitas Negeri Surabaya memunculkan tanya jawab menarik.
WARTA KOTA, PALMERAH -- Acara Dialog Pelibatan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Birokrasi Kampus dalam Pencegahan Terorisme yang berlangsung di Kampus Universitas Negeri Surabaya, Rabu, memunculkan acara tanya-jawan menarik.
Dalam acara yang digelar oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, itu muncul sebuah pertanyaan menarik dari seorang peserta, yaitu apakah cadar salah satu identitas radikalisme.
FKPT Center melalui keterangan tertulis yang diterima Warta Kota hari ini, menyebutkan, pertanyaan itu diajukan oleh Saiful, anggota LDK di Universitas Bhayangkara Surabaya selepas Muhamamd Syauqillah dari Universitas Indonesia menyampaikan materinya.
"Apakah bercadar merupakan erosi di era reformasi? Apakah hal itu termasuk budaya luar yang masuk ke Indonesia?" ujar Saiful.
Menjawab pertanyaan tersebut, Syauqillah menjawab cadar bukanlah identitas seseorang terlibat dalam kelompok pro radikal terorisme. Cadar adalah bagian dari kebebasan berekspresi yang diizinkan di Indonesia.
"Kita tidak bisa memberikan stigma, seperti halnya terhadap lelaki berjenggot (yang pernah distigma sebagai) teroris," kata Syauqillah.
Syauqillah mengajak mahasiswa dan birokrasi kampus di Jawa Timur untuk mewaspadai terorisme bukan dari ciri-ciri fisik seseorang, melainkan sikap dan pemahamannya tentang agama dan bernegara.
"Lihatlah sikapnya. Islam tidak mengajarkan radikalisme (yang mengarah ke terorisme). Jika mengaku Islam tapi mudah mengkafirkan orang lain, merasa paling benar, menyebar kebencian dan melakukan kekerasan, itu baru terorisme," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama Syauqillah membeberkan sejumlah bukti Islam dan agama lain di Turki, negara yang menjadi kiblat kelompok pro-radikal terorisme di Indonesia, justeru bisa hidup rukun.
"Mahasiswa harus kritis. Jangan mudah dibodohi, diadu domba dan diajak bergabung dalam kelompok radikal terorisme," pesan Syauqillah.
Pengajar Kajian Timur Tengah di UI tersebut juga mengingatkan mahasiswa di Jawa Timur agar tidak melepaskan keyakinannya terhadap Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/syauqillah_20170921_113616.jpg)