Sembilan Kecamatan di Kabupaten Bekasi Dilanda Kekeringan
Sembilan kecamatan di Kabupaten Bekasi tak hanya alami kekeringan, tetapi sudah masuk kondisi siaga kekeringan sejak beberapa pekan lalu.
Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor: Fred Mahatma TIS
WARTA KOTA, BEKASI -- Sembilan kecamatan di Kabupaten Bekasi dinyatakan mengalami kekeringan. Bahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi menetapkan kondisi siaga darurat kekeringan sejak beberapa pekan lalu.
"Warga banyak yang kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari," kata Kepala BPBD Kabupaten Bekasi, Aspuri.
Aspuri menjelaskan, sembilan wilayah yang mengalami kekeringan itu berada di Kecamatan Cibarusah, Bojong Manggu, Cikarang Pusat, Serang Baru, Cikarang Selatan, Muara Gembing, Sukatani, Babelan dan Cikarang Timur.
Dari sembilan kecamatan itu, wilayah Cibarusah yang paling parah dilanda kekeringan.
"Warga terpaksa mengambil air di kali Cipamingkis dan Cihoe yang sudah keruh karena debit air berkurang," ujarnya.
Menurutnya, pemerintah setempat sudah memberitahukan siaga darurat kekeringan ini ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat. Saat ini, pemerintah memberikan bantuan pasokan air yang dikirim PDAM Tirta Bhagasasi.
"Kami siagakan personel dengan delapan mobil tangki dengan masing-masing truk berisi 5.000 liter. Kami juga berikan jerigen ke setiap kepala keluarga. Meskipun pasokan air, tapi kami terus pantau perkembangannya," jelasnya.
Dia mengatakan, sejumlah wilayah mengalami kekeringan lantaran hujan yang tak kunjung turun membuat sumur serta mata air yang biasa digunakan warga mengering.
Terparah
Tiga desa di Kecamatan Cibarusah dinyatakan menjadi daerah yang mengalami kekeringan terparah.
Desa tersebut di antaranya, Sirnajati, Ridomanah dan Ridogalih dengan jumlah warga terdampak mencapai 2.659 keluarga. Akibat kemarau berkepanjangan, ribuan warga kesulitan mengakses air bersih. Sumur di dekat rumah mereka kering, begitu pun dengan mata air lainnya.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Jejen Sayuti mendesak agar pemerintah cepat tanggap untuk membuat sumur artesis diwilayah tersebut guna menjawab solusi kekeringan diwilayah Selatan Cikarang tersebut. "Setiap tahun kekeringan selalu terjadi, dimana solusi pemerintah mengatasi hal tersebut," kata Jejen.
Politisi PDI Perjuangan ini mengaku, siaga darurat bencana yang dilaporkan pemerintah setempat harus sudah dilakukan sejak dua bulan lalu. Sebab, kekeringan sudah melanda sejak tiga bulan lalu. "Ini bencana, ada anggaran darurat bencana yang bisa digunakan untuk kekeringan ini," katanya.
Sementara warga Kampung Putat, Desa Ridogalih, Sutini (30), mengaku wilayahnya kekeringan sejak dua bulan lalu. Sebab, air sumur yang biasa digunakan setiap hari menjadi kering. "Kami susah mendapatkan air bersih, sumur menjadi kering," kata ibu dua anak ini.
Dia bersama warga sudah mencoba melakukan pengeboran ulang beberapa kali untuk menemukan mata air baru. Namun upayanya belum menemukan hasil. Bahkan mesin pompa jet yang tersedia di setiap RT tidak banyak membantu.
"Kita terpaksa membeli air galon yang dijual Rp 3.000 setiap galonnya," ujarnya.
Sutini mengaku, warga kampungnya sudah mendapatkan pasokan air bersih dari pemerintah setempat. Namun, pasokan itu didapat hanya untuk kebutuhan sehari saja. "Kami kekurangan air bersih, setiap tahun kondisi air di kampung kami selalu begini, pemerintah harus liat penderitaan kami," imbuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20150730el-nino-ancam-kekeringan-di-beberapa-wilayah-indonesia_20150730_141507.jpg)