Begini Tanggapan Warga tentang Aturan BI Soal E-money

Aturan Bank Indonesia (BI) yang memungut uang administrasi setiap mengisi uang eleltronik (e-money) ditanggapi dingin oleh warga.

Warta Kota/Alex Suban
Petugas menawarkan Kartu Pembayaran Elektronik, di Gerbang Tol Cililitan, Jakarta Timur, Sabtu (16/9/2017). 

WARTA KOTA, PALMERAH --- Aturan Bank Indonesia (BI) yang memungut uang administrasi Rp 1.000 hingga Rp 2.000 setiap mengisi uang eleltronik (e-money) ditanggapi dingin oleh warga.

Bahkan mereka tidak 'ngeh' bila BI memberlakukan uang administrasi.

"Kalau aku sih ngga masalah, karena nilainya juga tidak besar untuk uang administrasi," ujar Swasti (33) karyawan swasta, yang sejauh ini membeli uang elektronikpun tidak terlalu 'ngeh'.

Baca: Kebijakan Bayar Administrasi Top Up E-Money Bertentangan dengan Kampanye BI

"Aku juga soalnya ngga notice kalau ada dana tambahan segitu. Ini juga baru tahu pas ditanya. Karena kalau e-money aku udah tinggal Rp 20.000 langsung aku isi lagi bisa lewat ATM atau pakai e-banking karena kebetulan ada rekening Bank Mandiri," kata Swasti yang dihubungi Warta Kota, Sabtu (16/9).

Hampir sama dikemukakan oleh Citra (30). Walaupun beli langsung e-money di teller Bank Mandiri, namun dirinya tidak tahu kalau ada potongan Rp 1.000 dan Rp 2.000.

"Ngga ngeh aja kalau ada tambahan dana segitu. Karena mungkin kecil juga yaa," katanya.

Baca: Kebijakan Bayar Administrasi Top Up E-Money Bertentangan dengan Kampanye BI

Kaji Ulang

Widi (42) membeli e-money untuk keperluan pembayaran toll. Ia membeli di gerai supermarket. Sejauh ini ia memang belum tahu persis adanya tambahan biaya sebesar Rp 1.000 sampai Rp 2.000. Hanya saja, Widi beranggapan seharusnya Pemerintah tidak membebankan uang administrasi ke konsumen.

Memang kesannya uang tersebut kecil, namun ke depan masyarakat akan rutin membeli e-money dan konsumen juga terus yang dibebankan uang adminstrasi. Padahal kebijakan e-money juga menguntungkan Pemerintah.

"Seharusnya Pemerintah mengkaji lagi kebijakan tersebut. Terlebih saat ini Pemerintah sedang gencar-gencarnya menggalakkan e-money. Walaupun terbilang kecil, jangan sampai kebijakan tersebut membuat masyarakat menyurutkan niatnya menggunakan e-money," tuturnya.

Sebenarnya, kata dia, kebijakan e-money ini menguntungkan baik masyarakat dan Pemerintah. Swasti mengaku senang dan nyaman menggunakan uang elektronik.

"Aku senang pakai e-money, less cash, ngga perlu bawa uang cash banyak kalau pergi-pergi. Bisa buat belanja di supermarket dan juga kartu kereta," ujar Widi.

"Sementara bagi Pemerintah dengan semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan uang elektronik akan membuat peredaran uang tunai juga makin berkurang. Hal ini meminimalkan biaya produksi membuat uang, menghindari uang palsu serta biaya keamanannya," imbuhnya.

Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved