Delegasi Dunia Kecam Tragedi Kemanusiaan dan Kekerasan di Myanmar

Hampir seluruh delegasi menyatakan kecaman terhadap tragedi kemanusiaan di Myanmar, Syria, dan Palestina.

Delegasi Dunia Kecam Tragedi Kemanusiaan dan Kekerasan di Myanmar
Istimewa
World Parliamentary Forum On Sustainable Development dihadiri oleh 47 Parlemen dari berbagai negara. Beberapa diantaranya adalah dari Qatar, Kanada, Turki, Korea Selatan, India, Chile, Fiji, Ghana, Zimbabwe, Ecuador, Iran, Jordan, Mexico, dan Portugal. Adapun 19 Observer yang hadir antara lain ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA), UNDP, European Union, dan Migran Care. Hadir juga para pimpinan parlemen dari sejumlah negara. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Bertempat di Nusa Dua Bali, pada 6-7 September 2017, DPR RI menggelar World Parliamentary Forum On Sustainable Development.

Forum parlemen dunia ini, dihadiri oleh delegasi dari 47 parlemen dunia dan international observer.

Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, sebagai pimpinan DPR yang membidangi diplomasi parlemen, menyatakan bahwa sidang ini lahir atas inisiatif aktif DPR RI dalam mendukung agenda Sustainable Developments Goals (SDGs).

World Parliamentary Forum On Sustainable Development dihadiri oleh 47 Parlemen dari berbagai negara. Beberapa diantaranya adalah dari Qatar, Kanada, Turki, Korea Selatan, India, Chile, Fiji, Ghana, Zimbabwe, Ecuador, Iran, Jordan, Mexico, dan Portugal. Adapun 19 Observer yang hadir antara lain ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA), UNDP, European Union, dan Migran Care. Hadir juga para pimpinan parlemen dari sejumlah negara.
World Parliamentary Forum On Sustainable Development dihadiri oleh 47 Parlemen dari berbagai negara. Beberapa diantaranya adalah dari Qatar, Kanada, Turki, Korea Selatan, India, Chile, Fiji, Ghana, Zimbabwe, Ecuador, Iran, Jordan, Mexico, dan Portugal. Adapun 19 Observer yang hadir antara lain ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA), UNDP, European Union, dan Migran Care. Hadir juga para pimpinan parlemen dari sejumlah negara. (Istimewa)

“Forum ini adalah forum tingkat dunia pertama, yang secara khusus membahas penguatan peran parlemen dunia dalam mendukung pencapaian SDGs pada 2030. Forum ini juga sebagai bukti peran strategis DPR RI dalam diplomasi parlemen di dunia,” katanya, Kamis (7/9/2017).

Sejumlah agenda strategis yang termuat di dalam SDGs, dibahas secara mendalam dalam forum ini.

Fadli Zon memaparkan bahwa dalam forum ini diselenggarakan 3 Plenary Session dan 5 Panel Discussion.

“Forum ini berjalan sangat produktif dan efektif. Total seluruhnya ada 8 sesi diskusi, yang membahas sejumlah isu," katanya.

Beberapa isu yang dibahas, kata Fadli Zon, antara lain climate change, violence and sustaining peace, inclusive development, corruption, gender equality, dan regional cooperation.

"Isu-isu yang diangkat dalam forum ini sangat relevan dalam merespon problem global yang saat ini tengah berlangsung. Saya sendiri memimpin Second Plenary Session yang mengangkat tema Ending Violence and Sustaining Peace," katanya.

World Parliamentary Forum On Sustainable Development dihadiri oleh 47 Parlemen dari berbagai negara. Beberapa diantaranya adalah dari Qatar, Kanada, Turki, Korea Selatan, India, Chile, Fiji, Ghana, Zimbabwe, Ecuador, Iran, Jordan, Mexico, dan Portugal. Adapun 19 Observer yang hadir antara lain ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA), UNDP, European Union, dan Migran Care. Hadir juga para pimpinan parlemen dari sejumlah negara.
World Parliamentary Forum On Sustainable Development dihadiri oleh 47 Parlemen dari berbagai negara. Beberapa diantaranya adalah dari Qatar, Kanada, Turki, Korea Selatan, India, Chile, Fiji, Ghana, Zimbabwe, Ecuador, Iran, Jordan, Mexico, dan Portugal. Adapun 19 Observer yang hadir antara lain ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA), UNDP, European Union, dan Migran Care. Hadir juga para pimpinan parlemen dari sejumlah negara. (Istimewa)

Dalam sesi yang dia pimpin, Fadli menegaskan bahwa salah satu tantangan pembangunan berkelanjutan adalah masih terjadinya aksi-aksi kekerasan kemanusiaan.

"Saat ini, kita bisa lihat, tragedi kemanusiaan di sejumlah tempat masih menjadi tantangan yang belum bisa ditangani secara tuntas," katanya.

Melalui forum ini, kata Fadli Zon, hampir seluruh delegasi menyatakan kecaman terhadap tragedi kemanusiaan di Myanmar, Syria, dan Palestina.

"Tragedi kemanusiaan tersebut menghambat pencapaian SDGs 2030. Pembangunan berkelanjutan tidak akan tercapai tanpa adanya perdamaian,” katanya.

Fadli Zon berharap, World Parliamentary Forum On Sustainable Development kali ini semakin memperkuat komitmen parlemen di seluruh dunia dalam mensukseskan pencapaian SDGs 2030.

“SDGs 2030 akan terwujud jika seluruh pemangku kepentingan, termasuk Parlemen, dapat menjalin kemitraan kolaboratif. Melalui peran legislasi, budgeting, pengawasan, serta peran perwakilan, parlemen memiliki posisi strategis dalam mempercepat pencapaian target-target SDGs,” kata Ketua GOPAC ini.

World Parliamentary Forum On Sustainable Development dihadiri oleh 47 Parlemen dari berbagai negara. Beberapa diantaranya adalah dari Qatar, Kanada, Turki, Korea Selatan, India, Chile, Fiji, Ghana, Zimbabwe, Ecuador, Iran, Jordan, Mexico, dan Portugal. Adapun 19 Observer yang hadir antara lain ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA), UNDP, European Union, dan Migran Care. Hadir juga para pimpinan parlemen dari sejumlah negara.
World Parliamentary Forum On Sustainable Development dihadiri oleh 47 Parlemen dari berbagai negara. Beberapa diantaranya adalah dari Qatar, Kanada, Turki, Korea Selatan, India, Chile, Fiji, Ghana, Zimbabwe, Ecuador, Iran, Jordan, Mexico, dan Portugal. Adapun 19 Observer yang hadir antara lain ASEAN Inter Parliamentary Assembly (AIPA), UNDP, European Union, dan Migran Care. Hadir juga para pimpinan parlemen dari sejumlah negara. (Istimewa)
Penulis:
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved