Istri Setnov Disebut-sebut Bertemu dengan Elza terkait Kasus Korupsi KTP-e

Farhat Abbas menyebut istri Ketua DPR Setya Novanto pernah meminta bertemu Elza Syarief terkait kasus dugaan korupsi KTP-e.

ANTARA/Sigid Kurniawan
Pengacara Farhat Abbas tiba untuk menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (26/4/2017). Farhat Abbas diperiksa sebagai saksi kasus pemberian keterangan tidak benar sidang korupsi KTP Elektronik dengan tersangka Miryam S Haryani. 

Farhat menceritakan hal itu sesuai dengan penuturan Elza Syarief kepada dirinya selaku pengacara Elza. Terhadap keterangan Farhat itu, Miryam mengatakan bahwa Farhat banyak berbohong.

"Keterangan saksi ini di BAP secara rinci dan keterangannya dari Bu Elza dan media massa. Saya rasa dia tidak tahu kebenarannya, apakah benar atau tidak. Jadi saya rasa banyak keterangan tidak benar yang disampaikan di sini. Jadi Farhat Abbas mohon dijadikan tersangka seperti saya (karena) memberikan keterangan yang tidak benar," kata Miryam.

"Ibu mengatakan seperti Ibu semudah mencabut BAP di persidangan," ungkap Farhat.

Dalam perkara ini, Miryam didakwa memberikan keterangan yang tidak benar dengan sengaja; memberikan keterangan dengan cara mencabut semua keterangannya yang pernah diberikan dalam BAP penyidikan, yang menerangkan antara lain adanya penerimaan uang dari Sugiharto dengan alasan saat pemeriksaan penyidikan telah ditekan dan diancam oleh tiga orang penyidik KPK, padahal alasan yang disampaikan terdakwa tersebut tidak benar.

Pencabutan BAP itu terjadi dalam sidang pada Kamis, 23 Maret 2017.

Selanjutnya pada Kamis, 30 Maret 2017 JPU menghadirkan kembali Miryam di persidangan bersama tiga penyidik. Ketiga penyidik yang dimaksud ialah Novel Baswedan, MI Susanto dan A Damanik.

Ketiga penyidik itu menerangkan bahwa mereka tidak pernah melakukan penekanan dan pengacaman saat memeriksa terdakwa sebagai saksi lebih lanjut, diterangkan dalam empat kali pemeriksaan, yakni pada 1, 7, 14 Desember 2016 dan 24 Januari 2017.

Terdakwa juga diberi kesempatan membaca, memeriksa dan mengoreksi keerangannya pada setiap akhir pemeriksaan sebelum diparaf dan ditandatangani Miryam.

Setelah mendengarkan keterangan tiga penyidik KPK, hakim kembali menanyai Miryam atas keterangan tersebut. Atas pertanyaan hakim, Miryam tetap pada jawaban yang menerangkan bahwa dirinya telah ditekan dan diancam penyidik KPK saat pemeriksaan dan penyidikan serta dipaksa mendatangani BAP sehingga Miryam tetap menyatakan mencabut semua BAP termasuk keterangan tentang penerimaan uang dari Sugiharto.

Terhadap perbuatan tersebut, Miryam didakwa dengan pasal 22 jo pasal 35 ayat 1 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU no 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 64 ayat 1 KUHP yang mengatur tentang orang yang sengaja tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar dengan ancaman pidana paling lama 12 tahun dan denda paling banyak Rp600 juta.

Editor:
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved