Selasa, 26 Mei 2026

Jalan Puri Molek Dekat Gedung CNI Jadi Pasar Malam

Pedagang yang dipanggil Pak'De oleh pedagang lainnya itu mengaku, ada yang mengelola pasar malam itu.

Tayang:
Warta Kota/Bintang Pradewo
Jalan Puri Molek Dekat Gedung CNI Jadi Pasar Malam 

WARTA KOTA, KEMBANGAN - Lapak pedagang kaki lima dan parkir liar masih marak di Jalan Puri Molek, kawasan Puri Indah, Kembangan, Jakarta Barat, atau tepatnya di belakang Gedung CNI, Selasa (29/8/2017) malam.

Sebagian ruas jalan sudah berubah bentuk sebagai pasar malam.

Namun, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat nampak tutup mata dengan keberadaan PKL dan parkir liar tersebut. Alhasil kesemerawutan dan berantakan terlihat disana. Padahal lokasi itu tidak jauh dengan kantor Wali Kota Jakarta Barat.

Berdasarkan pantauan lokasi strategis di Jakarta Barat itu berubah menjadi pasar malam mulai petang hingga malam hari. Bangunan permanen pedagang yang menjual barang sandang dan pangan berdiri di sebuah tanah lapang di sana. Ironisnya, lapak-lapak semi permanen serta gerobak PKL juga menjamur di atas trotoar dan badan jalan.

Ruas Jalan Puri Molek pun menjadi menyempit.

Deretan gerobak PKL khususnya pedagang minuman ringan dan makanan, bahkan meluber hingga ke Jalan Puri Indah.

Parkir liar menambah crowded kawasan itu.

Para pedagang makanan dan minuman menggelar alas dari terpal seadanya di atas trotoar. Ada juga pedagang mie ayam yang nekat membuka meja di pinggir jalan.

Andong dan kereta odong-odong pun terlihat mondar-mandir di lokasi itu.

"Pasar mulai buka jam 4-an (16.00 WIB) sampai malam. Kalau pagi dan siang tutup. Malam minggu ramai banget, tapi kalau hari biasa ya agak sepi," ujar salah satu pedagang minuman ringan yang enggan disebutkan namanya itu.

Pedagang yang dipanggil Pak'De oleh pedagang lainnya itu mengaku, ada yang mengelola pasar malam itu. Namun ketika ditanya siapa yang mengelola, dia enggan membeberkannya.

"Ada yang mengelola (pasar malam). Tapi kalau kita (PKL di pinggir jalan) nggak. Kita gelar aja. Tapi nitip gerobak bayar. Saya bayar Rp 200 ribu sebulan, ada juga Rp 300 (pedagang) yang baru-baru. Dari pada dorong gerobak pulang, capek. Iya ada uang keamanan juga," ungkapnya.

Bukan Pedagang Binaan

Sementara itu, Kepala Suku Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan (KUKMP) Jakarta Barat Nuraini Silviana mengatakan, para pedagang pasar malam itu bukan binaan Pemerintah Kota Jakarta Barat.

"Oh nggak. Kita tidak ikut campur, itu oknum. Waktu itu mereka minta dibina saya tidak mau. Bukan binaan Pemda, jadi di luar kita ya," ujar Silvi.

Dia mengungkapkan, kawasan pasar malam itu memang sudah sangat crowded. "Memang sudah crowded. Itu bukan punya kita, saya tidak mau campuri itu. Masih banyak yang mau dibina. Itu ada oknumnya, ada setoran. Tapi saya tidak mau campuri itu. Tidak mungkin kalau tidak ada (setoran)," jelasnya.

Menurutnya, Sudin KUKMP Jakarta Barat memang sempat berencana membina pedagang di sana, beberapa waktu lalu. Namun, karena banyaknya jumlah pedagang dan sudah dikoordinir sehingga sulit untuk dibina.

"Tadinya rencana kita ingin jadikan CSR, ingin kita bangun ya. Tapi lihat-lihat kondisi tidak mungkin, akhirnya tidak jadi. Ya pedagang terlalu banyak dan sudah ada yang mengkoordinir. Sudah gitu juga kalau kita bangun di situ terlampau banyak, itu kan banyak pedagangnya, akhirnya estetikanya tidak bagus jadinya nanti," katanya.

Ia menegaskan, semua pedagang di wilayah itu bukan binaan Sudin UMKM Jakarta Barat. "Yang jelas bukan punya Pemda, dan di luar UMKM. Pasti ngeluh (masyarakat). Itu tanah kosong di sana sudah ada bangunan sekarang. Sudah kayak hotel, mereka sekat-sekat begitu. Tanah kosong sudah ada bangunan permanen itu kan sudah tidak benar," tegasnya.

Menyoal apakah akan dilakukan penertiban, Silvy enggan berkomentar banyak karena penertiban bukan masuk ranah pekerjaannya.

"Itu bukan ranah saya, itu Satpol PP. Kalau pembinaan UMKM itu ranah saya. Jadi saya tidak bisa jawab. Kalau bukan binaan kami, saya juga tidak bisa ngomong atau masuk (ke pedagang) juga. Kalau PKL, tanggungjawab pamong bersama instansi terkait," ucapnya.

Silvy menjelaskan, pihaknya sudah membangun sejumlah lokasi binaan usaha kecil menengah. Seperti di kawasan Puri Kencana dan Pasar Kopro, Jakarta Barat. Semuanya tertib dan dikelola secara teratur.

Kucing-Kucingan

Sementara itu, Kasatpol PP Jakarta Barat, Tamo mengatakan pihaknya selalu melakukan penertiban. Namun, para pedagang masih tetap membandel dan berjualan disana.

"Sudah beberapa kali kita tertibkan , tapi saya akui mereka kucing - kucingan dengan anggota dan mereka selalu berkomunikasi melalui hp kalau mau ada penertiban dan menghilang sebentar. Begitu anggota ke lokasi lain PKL nya balik lagi. Karena kalau ditunggui hanya satu dua anggota pasti di lawan sama mereka," ucap Tamo.

Menurut dia pihak Satpol PP tidak fokus disana. Melainkan di RPTRA Kalijodo dan Kawasan Kota Tua. Oleh sebab itu, pihaknya hanya akan melakukan monitor di lokasi tersebut.

"Kita patroli rutin saja. Karena kita lebih fokus utk Kawasan Kota Tua dan Kalijodo," ungkap dia.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved