Minggu, 10 Mei 2026

Jalur Neraka di Jalan Nusantara Dipasang Pita Kejut

Dishub Kota Depok akhirnya memasang atau membuat pita kejut atau garis kejut di Jalan Nusantara Raya, Selasa (22/8).

Tayang:
Penulis: Budi Sam Law Malau |
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Pita atau garis kejut di Jalan Nusantara yang dipasang Dishub Depok, Selasa (22/8). 

WARTA KOTA, DEPOK -- Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Depok akhirnya memasang atau membuat pita kejut atau garis kejut di Jalan Nusantara Raya, yang merupakan salah satu ruas jalan yang diterapkan sistem satu arah sejak 29 Juli lalu, pada Selasa (22/8/2017).

Garis kejut atau pita kejut itu dipasang di satu titik di sekitar Yayasan Pendidikan Al Muhajirin.

Diharapkan dengan pita kejut ini dapat menurunkan potensi kecelakaan lalu lintas yang terjadi di ruas jalan tersebut.

"Kami pasang pita kejut di dekat Al Muhajirin di Jalan Nusantara, agar pengendara dapat mengatur kecepatan kendaraannya dan tidak ngebut, saat melintas," kata Kepala Dishub Depok Gandara Budiana kepada Warta Kota, Selasa (22/8/2017).

Pita atau garis kejut di Jalan Nusantara yang dipasang Dishub Depok, Selasa (22/8).
Pita atau garis kejut di Jalan Nusantara yang dipasang Dishub Depok, Selasa (22/8). (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)

Seperti diketahui sejak diterapkannya sistem satu arah (SSA) di Jalan Nusantara dan Jalan Dewi Sartika, di Pancoran Mas, Depok, mulai 29 Juli lalu, ruas Jalan Nusantara disebut oleh warga berubah menjadi jalur neraka.

Sebab lengangnya ruas jalan sepanjang 1 km tersebut pada siang hari, membuat pengendara kendaraan memacu kendaraannya dengan ngebut setiap melintas di ruas jalan itu.

Sehingga banyak warga kesulitan menyeberang jalan di sana.

Akibatnya pula sudah belasan kali terjadi kecelakaan di ruas Jalan Nusantara dimana para korbanya rata-rata adalah penyeberang jalan yang terserempet motor atau mobil.

Pantauan Warta Kota, garis kejut atau pita kejut yang dipasang di Jalan Nusantara, merupakan perkerasan jalan dengan ketinggian sekitar 3 sampai 5 cm.

Pita kejut memiliki lebar sekitar 25 cm dan terpasang melintang di ruas Jalan Nusantara.

Ada lima pita di satu titik di dekat Yayasan Pendidikan Al Muhajirin tersebut, dimana jarak setiap garis atau pita kejut sekitar setengah meter.

Gandara mengatakan ke depan tidak menutup kemungkinan ada pemasangan atau pembuatan pita kejut lainnya di titik lain di Jalan Nusantara.

"Ya, akan kita tambah di titik lainnya di Jalan Nusantara ini. Kali ini baru di dekat Al Muhajirin dulu," kata Gandara.

Dengan garis kejut ini Gandara berharap tidak ada lagi kendaraan terutama sepeda motor yang ngebut di sana mesti jalanan lengang.

"Diharapkan ini meminimalisir terjadinya kecelakaan lalu lintas di sana," kata Gandara.

Selain itu kata dia, dengan garis kejut ini, warga atau masyarakat akan lebih mudah menyeberang jalan di Jalan Nusantara.

Sebelumnya sejumlah warga menyebutkan Jalan Nusantara berubah menjadi jalur neraka sejak diterapkan sistem satu arah di sana.

"Memang Jalan Nusantara jadi lengang kalau siang hari sejak sistem satu arah diterapkan. Tapi karena lengang, pengendara pada ngebut terutama motor. Akibatnya sudah belasan kali penyeberang jalan ditabrak atau diserempet kendaraan, mulai motor sampai mobil di Jalan Nusantara," kata Wasis, warga yang tinggal di Perumnas Depok I di sisi Jalan Nusantara, Senin (21/8/2017).

Bahkan kata dia pekan lalu ada seorang guru di salah satu sekolah di Jalan Nusantara yang terserempet kendaraan. "Kalau gak salah ibu guru itu keserempet motor dan sempat dibawa ke klinik karena luka memar di tubuhnya," kata Wasis.

Menurutnya adanya pengendaara yang ngebut di Jalan Nusantara juga selalu dibiarkan petugas Dishub yang berjaga.

"Gak ada peringatan apa-apa. Makanya sekarang Jalan Nusantara disebut jalur neraka. Karena susah banget kalau mau nyeberang jalan. Semua kendaraan pada ngebut," kata dia.

Belum lagi kata Wasis masih banyaknya pengendara motor yang tetap melawan arus meski Jalan Nusantara sudah diterapkam sistem satu arah.

"Karena terlalu jauh kalau memutar, sehingga masih banyak yang lawan arus. Belum aja ada kecelakaan karena melawan arus. Makanya tepat juga Jalan Nusantara ini disebut jalur neraka," kata dia.

Menurut Wasis beberapa orangtua murid yang sekolahnya di Jalan Nusantara, dan bertempat tinggal di wilayah Beji atau di Jalan Wijayakusuma, Jalan teratai dan Jalan Anyelir di Perumnas Depok I, kerap melawan arus jika usai menjemput anak mereka dari sekolah.

"Soalnya kalau memutar, lewat Jalan Margonda lalu Jalan Arif Rahman Hakim, makin jauh sepuluh kali lipat dan makan waktu lebih lama," katanya.

Hal senada dikatakan Joko, pedagang warung di sisi Jalan Nusantara.

"Kalau soal kecelakaan, mas tanya saja sama petugas Dishub yang jaga. Mereka tahu kok. Sebagian besar kecelakaan, korbannya penyeberang jalan yang keserempet mobil atau motor. Tapi memang belum ada yang sampai meninggal," katanya.

Apalagi kata Joko, yang cukup mengerikan adalah jika anak-anak sekolah SD atau SMP menyeberang jalan di Jalan Nusantara.

"Anak sekolah jadi terancam keselamatannya. Kayaknya sih memang masyarakat belum siap kalau Jalan Nusantara ini dijadikan satu arah," kata dia.(bum)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved