VIDEO: Diterlantarkan Mantan Suaminya yang 'Bule', Wanita ini Melapor ke Polda

LPAI menyarankan Yanti Sudarno untuk langsung melaporkan kepada Unit PPA Polda Metro Jaya karena terkait dengan kelalaian pemenuhan hak anak

Penulis: Mohamad Yusuf | Editor: Ahmad Sabran

WARTA KOTA, JAKARTA- Yanti Sudarno seorang janda tiga anak melaporkan penelantaran oleh mantan suaminya, yang seorang Warga Negara Asing (WNA) ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polda Metro Jaya, Senin (21/8/2017).Ia mengaku diusir dari rumahnya sendiri oleh mantan suaminya yang berinisial MI, warga negara Norwegia. Menurutnya, sudah satu tahun lebih bekas suaminya abai terhadap kewajibannya menafkahi dirinya.

Yanti ditemani Pimpinan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto dalam membuat laporannya. Dikatakannya Pengadilan memutuskan untuk memberikan nafkah Rp 20 juta perbulan tapi tidak sekalipun dipenuhi. Yanti bercerita, pada 28 September 2015 MI beserta istri barunya melakukan pengusiran kepada Yanti beserta ketiga anaknya dari rumah di Cilandak, Jakarta Selatan. Menurutnya, barang-barang miliknya langsung dikemasi ke dalam kardus dan disisihkan secara serampangan di luar rumah agar dapat secara langsung dibawa keluar dari rumah tersebut.

"Pengusiran tersebut juga langsung dilakukan seketika tanpa dikomunikasikan. Saya pun sudah melaporkan ke Polres (Jakarta Selatan) terkait pengusiran itu pada hari kejadian, namun kasusnya mentah. Sekarang saya tinggal di rumah petakan," ungkapnya.
Yanti juga mengaku tetap berjuang untuk memperoleh keadilan yakni dengan melakukan upaya hukum yaitu menggugat hak asuh anak, menggugat harta gono gini, serta menggugat perbuatan melawan hukum peralihan saham, serta melaporkan ke Polda Metro Jaya terkait dugaan tindak pidana pemalsuan tandatangannya yang dipergunakan untuk mengalihkan Saham.

Menurut Seto, LPAI menyarankan Yanti Sudarno untuk langsung melaporkan kepada Unit PPA Polda Metro Jaya karena terkait dengan kelalaian pemenuhan hak anak. Karena kelalaian pemenuhan hak anak termasuk dalam kekerasan. "Kewajiban orangtua adalah mengasuh anak, merawat sebaik mungkin, dan bertanggung jawab kepada anak sehingga tidak boleh ada penelantaran, pengabaian, dan sebagainya," ujarnya.

Untuk memperkuat laporan, Yanti membawa hasil keputusan pengadilan agama yang memutuskan kewajiban bagi MI untuk memberikan Rp 20 juta per bulan kepadanya. "Dan juga saya membawa brosur dia yang tersebar dan masuk sebagai daftar pencarian orang (DPO) sejak 26 Juli 2017. Sudah disebar di masyarakat umum," ungkapnya.

Sumber: Warta Kota
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved