Breaking News:

Kecelakaan Lalu Lintas

Eti Pingsan Dengar Vonis Hakim Terhadap Penabrak Anaknya

Sidang pembacaan vonis terhadap kasus kecelakaan yang menewaskan Ridho Alfarel (17) digelar pada Selasa (8/8/2017).

Warta Kota/Andika Panduwinata
Eti (40), ibunda Ridho Alfarel (17), menjerit histeris hingga akhirnya pingsan setelah mendengar vonis yang dinilainya tidak adil dalam sidang sidang pembacaan vonis terhadap kasus kecelakaan yang menewaskan Ridho digelar di PN Tangerang pada Selasa (8/8/2017). 

Laporan Wartakotalive.com Andika Panduwinata

WARTA KOTA, TANGERANG - Sidang pembacaan vonis terhadap kasus kecelakaan yang menewaskan Ridho Alfarel (17) digelar pada Selasa (8/8/2017).

Kedua orangtua korban yakni Ari (43) dan Eti (40) datang ke Pengadilan Negeri Tangerang untuk melihat langsung proses sidang itu.

Seperti diberitakan Warta Kota sebelumnya, mereka tak terima dengan tuntutan jaksa.

Jaksa menuntut Susanto penabrak putranya inu dijatuhi hukuman percobaan satu tahun penjara.

Baca: Ujicoba Pelarangan Sepeda Motor Masuk Jalan Sudirman Dimulai Awal September

Padahal menurut polisi yang menangani kasus ini, terdakwa terbukti melakukan kelalaian dalam berkendara.

Susanto yang saat itu mengendarai mobil menabrak Ridho di kawasan BSD, Tangerang Selatan pada medio Oktober 2016 lalu.

Korban yang menunggangi sepeda motor tewas seketika. Bahkan ia sempat terseret beberapa meter akibat disereduk pelaku.

"Terdakwa Susanto telah terbukti melakukan tindakan pidana kelalain yang mengakibatkan orang lain meninggal dunia dan menjatuhkan pidana selama 1 tahun percobaan serta dends Rp. 12. Apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan hukuman dua bulan," ujar Ketua Majelis Hakim, Syamsudin di ruang sidang 5 PN Tangerang pada Selasa (8/8/2017).

Baca: Nasib Pernikahan Sesama Jenis di Australia Akan Ditentukan Akhir Tahun Ini

Mendengar bacaan vonis tersebut, sontak membuat ruang sidang memanas. Jeritan dan tangis pecah saat itu.

"Saya enggak terima pak, kok bisa seperti ini hukumannya," teriak Ari lantang di ruang sidang.

Istri Ari yakni Eti pun menangis meronta - ronta. Perempuan berusia 40 tahun itu tak kuasa menahan kesedihan yang mendalam lantaran vonis hakim dianggap terlalu ringan.

"Anak saya meninggal pak, ini enggak adil," kata Eti yang mengenakan gamis merah dibalut kerudung terisak tangis.

Setelah berkucuran air mata, Eti mendadak pingsan di ruang sidang. Keluarga korban pun membopongnya menuju ruang tunggu.

"Ini benar - benar enggak adil. Saya sudah kehilangan nyawa anak, sekarang kehilangan keadilan juga. Percobaan hukuman satu tahun itu sama saja bebas," papar Ari.

Penulis: Andika Panduwinata
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved