Novel Baswedan Diteror

Lebih Parah dari Novel Baswedan, Pembacok Aktivis ICW Belum Tertangkap Sejak 2010

Adnan Topan Husodo memandang ‎kasus Tama mirip dengan teror yang dialami penyidik senior KPK Novel Baswedan.

Lebih Parah dari Novel Baswedan, Pembacok Aktivis ICW Belum Tertangkap Sejak 2010
TRIBUNNEWS/BIRO PERS/LAILY RACHEV
Kapolri Jenderal Tito Karnavian menunjukkan sketsa penyiram air keras terhadap Novel Baswedan, di Istana Negara, Jakarta, Senin (31/7/2017). 

WARTA KOTA, CIKINI - Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Adnan Topan Husodo‎ mengatakan, teror terhadap pemberantasan korupsi tidak hanya terjadi di era Presiden Joko Widodo.

Teror serupa juga pernah terjadi di era Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Teror tersebut menimpa aktivis ICW Tama S Langkun.

"Peristiwa yang menimpa Tama itu 8 Juli 2010, dan sampai hari ini pelaku tidak terungkap juga," ujar Adnan Topan Husodo dalam diskusi bertema Cerita Novel, KPK dan Pansus DPR, di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (5/8/2017).

Baca: Jusuf Kalla: Dana Haji Harus Diinvestasikan Agar Tidak Kena Inflasi

Adnan Topan Husodo memandang ‎kasus Tama mirip dengan teror yang dialami penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan pada 11 April 2017.

Baik Tama maupun Novel sempat merasa dibuntuti sebelum diserang. Penyerangan juga terjadi saat suasana gelap dan minim pencahayaan.

"Tama juga saat itu tengah tangani (kasus dugaan) rekening gendut (oknum jenderal) kepolisian. Laporan sudah ke KPK, namun ada sedikit kecerobohan dari kami sehingga informasi itu bocor. Keluar Kantor ICW, Tama sering dibuntuti orang tidak kenal. Bahkan, sudah ada informasi intelijen yang memberikan warning kepada ICW untuk waspada. Itu juga disampaikan tim dari kepolisian," paparnya.

Baca: Prabowo Sebut Presidential Threshold Lelucon Politik, Jokowi: Kenapa Dulu Tidak Ramai?

Meski sudah ada warning‎, Tama tetap diserang. Menurut Adnan, penyerangan dilakukan dengan sangat profesional, di mana waktu yang dipilih malam hari dan lokasinya di tempat yang gelap.

Masih menurut Adnan Topan Husodo, target dari peneror saat itu adalah menghabisi Tama. Sebab, mereka menggunakan senjata tajam jenis samurai. Beruntung ada campur tangan Tuhan yang membuat upaya mereka gagal.

SBY saat itu juga sempat menjenguk Tama. Bahkan, SBY memberi pernyataan keras bahwa cara-cara seperti ini harus dihilangkan. Sama seperti Presiden Jokowi saat ini, SBY juga memerintahkan polisi mengusut tuntas dan menangkap pelaku.

Baca: Mantan Gubernur Sumut Terlihat di Bandara, Ini Kata KPK dan Kemenkumham

“Tapi, sampai sekarang tidak ada (pelaku yang ditangkap),” ucapnya.

Adnan Topan Husodo menambahkan, kendala menangani kasus seperti ini bukan karena polisi tidak punya bukti yang memadai. Sebab, dalam menangani kriminal biasa yang sangat rumit, kepolisian mampu mengungkap meski tidak ada saksi. (*)

Penulis: Theresia Felisiani
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved