Breaking News:

Penertiban Direspons Negatif karena Dinilai Bukan Solusi Atasi Kesemrawutan Tanah Abang

Minimnya lahan parkir di kawasan sentra niaga seperti Tanah Abang menyebabkan parkir liar semakin menjamur.

Istimewa/Rangga Baskoro
Bulan patuh trotoar yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi trotoar direspons negatif oleh para masyarakat, khususnya yang sedang berada di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. 

WARTA KOTA, TANAH ABANG -- Bulan patuh trotoar yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi trotoar direspons negatif oleh para masyarakat, khususnya yang sedang berada di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Banyak dari mereka yang menyatakan bahwa penertiban bukanlah suatu kebijakan yang menghasilkan solusi lantaran hanya bersifat temporer.

"Ini sih (penertiban) sudah sering dilakukan. Tapi coba saja lihat, kalau Satpol PP pergi, mereka (pedagang) pasti balik-balik lagi. Tertib trotoarnya paling hanya satu jam dua jam saja. Gak akan selesai-selesai," ucap Nurul (34) seorang warga di Jalan KH Mas Mansyur, Blok A, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (1/8).

Nurul menilai pemberian lokasi berdagang baru yang lebih layak untuk para pedagang merupakan solusi yang tepat dan lebih manusiawi.

"Selama ini, pemerintah kurang menaungi para pedagang kecil. Untuk apa ada UMKM dan instansi lainnya yang mengurusi para pedagang? Kemana mereka? Berikan tempat relokasi itu lebih solutif dari pada melakukan penertiban," ungkapnya.

Nurul mengaku, sempat mendengar rencana revitalisasi kawasan Tanah Abang dengan cara membangun sky bridge.

Namun, rencana itu perlahan terkubur sebelum bisa terealisasi.

"Dulu, katanya mau bangun sky bridge, sekarang gak ada lagi kabarnya. Padahal, menurut saya, itu bisa jadi salah satu solusi lho," ujar Nurul.

Menanggapi operasi parkir liar, pengunjung lain, Harianto (46) berpendapat hal yang sama dengan Nurul.

Minimnya lahan parkir di kawasan sentra niaga seperti Tanah Abang menyebabkan parkir liar semakin menjamur.

"Operasional penertiban seperti ini kan pasti butuh dana ya? Menurut saya lebih baik dana operasionalnya dikumpulkan, terus kalau sudah banyak ya dipakai untuk membeli lahan dan membuat parkiran yang luas di Tanah Abang," kata Harianto.

Penataan kota dengan cara menertibkan trotoar juga dinilai Harianto harus memperhitungkan volume kendaraan yang melintasi jalan. Memperbesar area trotoar dikatakan olehnya merupakan kebijakan yang tidak mementingkan kepentingan umum.

"Bagus sih kalau memperbesar trotoar, tapi coba lihat dulu kondisinya. Sekarang yang lebih banyak pejalan kaki atau pengendara motor? Kalau pengendaranya yang banyak, menurut saya lebih baik diperbesar jalannya, bukan trotoarnya," ujarnya. (Rangga Baskoro)

Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved