Kamis, 16 April 2026

Pesawat Tempur Buatan Indonesia-Korea Selatan Rampung pada 2026

Proyek pembuatan pesawat tempur antara Indonesia dengan Korea Selatan, terus berlanjut.

ISTIMEWA
Indonesian Fighter-Xperiment 

WARTA KOTA, GAMBIR - Proyek pembuatan pesawat tempur antara Indonesia dengan Korea Selatan, terus berlanjut.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitang) Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Anne Kusmayati mengatakan, sudah sekitar 14 persen proyek selesai dilaksanakan.

Dalam pemaparannya di Kantor Kemenhan, Jakarta Pusat, Jumat (28/7/2017), Anne Kusmayati menyebut proses Engineering Manufacturing Development (EMD) sudah dimulai sejak Januari 2016.

Baca: Kekurangan Hakim, 86 Pengadilan di Indonesia Tidak Beroperasi

Saat ini, yang masih dikerjakan adalah merampungkan Preliminary Design Reveiw (PDR), yang mencakup desain dasar dari keseluruhan sistem, dan akan dilanjutkan dengan perampungan Critical Design Review (CDR).

"Ini ditetapkan bersama antar Pemerintah RI dan Korea," ujarnya.

Proses pembuatan pesawat yang nantinya dinamakan Indonesian Fighter-Xperiment (KI-X) itu berlangsung dalam kurun waktu relatif lama.

Baca: Sebut Rumah DP Nol Rupiah untuk Gaji Minimal Rp 7 Juta, Ini Penjelasan Sandiaga Uno

Anne Kusmayati menyebut rencananya roll out pada 2020, dan akan melakukan uji coba pertamanya pada 2021. Setelahnya selama enam tahun, pesawat prototipe itu akan menjalani berbagai uji coba, dan pada 2026 ditargetkan pesawat itu sudah mengantongi sertifikasi.

"Ini program investasi sangat panjang, 10 tahun kita untuk (pembuatan) prototipe (purwarupa), bukan produksi, lalu test flight dan sertifikasi," jelasnya.

Pesawat yang siap digunakan setelah 2026 itu adalah pesawat tempur generasi 4.5, dilengkapi Electric Optical Targeting System (EOTS), Infra Red Sistem Targeting (IRST), radar Actice electronically Scanner Array (AESA), dan pengacau sinyal.

Baca: Ketua Umum PBNU: Organisasi yang Meremehkan Pancasila Harus Segera Dibubarkan Sedini Mungkin

Dari 100 persen kerja sama, beban Pemerintah Indonesia hanya sekitar 20 persen. Namun demikian, Indonesia bisa mengakses seluruh data mulai dari tahap awal hingga pasca-produksi. Data-data tersebut menurutnya adalah modal untuk mengembangkan industri pertahanan Indonesia ke tingkat selanjutnya.

Kapuslitbang Iptekhan Balitbang Kemhan Marsma TNI AU Bambang Wijanarko mengatakan, walaupun saat ini sudah ada pesawat generasi kelima dan pada 2026 Indonesia baru membangun pesawat generasi 4.5, namun hal tersebut masih merupakan sebuah keuntungan.

Sebab, jika produksi pertama sukses, maka bukan hal yang sulit untuk meningkatkan kecanggihan teknologi pesawat, demi menyamai kecanggihan pesawat dari merek-merek yang sudah ada saat ini.

"Selanjutnya kita bangun pesawat sesuai misi, apa yang kita butuhkan," katanya. (*)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved