Masyarakat Pemilik Tanah Adat Ulayat, Minta LSM Asing dan Lokal Tidak Lakukan Kampanye Hitam

Campur tangan yang dilakukan LSM Asing dan Lokal yang melakukan kampanye hitam soal perkebunan kelapa sawit membuat masyarakat meradang

wartakota/nur ichsan
masyarakat pemilik tanah hak ulayat di Kabupaten Merauke dan Boven Digoel, meminjta LSM asing maupun lokal untuk menghentikan kampanye hitam. 

WARTA KOTA, BOGOR --- Aksi tak terpuji yang dilakukan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Asing  yang melakukan kampanye hitam soal perkebunan kelapa sawit membuat para pemilik lahan ulayat Papua, meradang

Para tokoh masyarakat ini merasa khawatir aksi tersebut malah akan menghambat realisasi pengembangan perkebunan kelapa sawit di kabupaten Merauke dan Boven Digoel, Papua.

Warga merasa penasaran, karena itu untuk mengetahui apa latar belakang tindakan tersebut, perwakilan masyarakat adat yang juga pemilik hak ulayat di Kabupaten Merauke dan Kabupaten Boven Digoel, mendatangi  kantor Aidenvironment, salah satu LSM asing yang sering menentang  adanya perkebunan kelapa sawit di Merauke dan Boven Digoel. 

“Kita sebagai pemilik lahan ulayat meminta  mereka  untuk menghentikan kampanye hitam dan campur tangan di tanah hak ulayat milik masyarakat, sebab karena perbuatan itu, justeru kami yang menjadi korbannya”, kata Simon K Walinaulik, perwakilan masyarakat hak ulayat usai menemui staf Aidenvironment di  Bogor, Selasa (25/7/2017).

Simon meminta agar LSM  lokal maupun luar negeri Mighty Earth dan Aidenvironment yang menyuarakan pembatalan pembukaan lahan dalam areal PT. Dongin Prabhawa agar jangan membatasi usaha dalam koperasi, karena pihak perusahaan telah membantu masyarakat Kabupaten Merauke dan Boven Digul dalam hal kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

“Kami mau perubahan seperti saudara-saudara kami diluar Papua. Jadi sekali lagi, saya sebagai Ketua Marga Gebse Dinaulik sangat mengharapkan jangan menganggu kami. Kami mau maju seperti yang lainnya”,  ujar Simon.

Sehari selumnya, para pemangku kepentingan (stakeholders) industri sawit Merauke dan Boven Digoel berkumpul di Jakarta, Senin (24/7) membahas tantangan dan hambatan industri perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Merauke dan Kabupaten Boven Digoel.

Pada pertemuan tersebut hadir  yaitu Bupati Merauke Frederikus Gebze, Bupati Boven Digoel Benediktus Tambonop, Anggota Komisi IV DPR H.Hamdhani, Bioref IPB Nyoto Santoso dan perwakilan masyarakat pemilik hak ulayat di Merauke dan Boven Digoel.

Penulis: Nur Ichsan
Editor: M Nur Ichsan Arief
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved