Warga Bukit Duri Keluhkan Listrik Token di Rusun Rawa Bebek

Listrik mahal, kalo bisa jangan pake token, baru seminggu udah 100 ribu, kalo dulu 100 ribu bisa sampai sebulan non stop

Joko Supriyanto
Instalasi listrik di Rusun Rawabebek 

WARTA KOTA, RAWABEBEK - Jika biasanya warga Bukit Duri mengunakan listrik pascabayar, kini setelah di relokasi ke rumah Susun Rawa Bebek mereka harus mengunakan sistem pembayaran listrik Prabayar (token).

Selain harus mengubah kebiasaan dalam membayar listrik dari Pascabayar ke Prabayar tentunya dengan sistem ini mereka masih mengeluhkan dengan adanya listrik token.

Baca: Seminggu Pindah ke Rawa Bebek, Warga Bukti Duri Masih Binggung Lapangan Pekerjaan.

Menurut Nining (48) sistem tersebut justru membuat harga listrik yang ia pakai justru naik, bahkan sebelumnya dalam sebulan ia hanya membayar 100 ribu lebih, namun justru dengan mengunakan sistem listrik Prabayar ia merogoh kocek 100 ribu tidak lebih sampai sebulan.

"Listrik mahal, kalo bisa jangan pake token, baru seminggu udah 100 ribu, kalo dulu 100 ribu bisa sampai sebulan non stop," kata Nining saat ditemui di Rusun Rawa Bebek, Rabu (5/7/2017).

Padahal menurut Nining peralatan rumah tanggalnya yang mengunakan listrik hanya sedikit, bahkan di dalam rumahnya tidak AC yang daya Listriknya tinggi.

"Aturan subsidi, ini aja di irit-irit," katanya.

Saat di Bukit Duri menurunkan listrik yang ia pakai mendapat subsidi dari pemerintah melalui dapat Bantuan Langsung Tunai (BLT) sehingga biayanya lebih murah dari pada saat ini.

Tak hanya itu ia menjelaskan bahwa Daya listrik saat di Bukit DURI hanya sebesar 900V lebih kecil dibandingkan ketika ia tinggal di Rusun Rawa Bebek yaitu sebesar 1300V.

"Ini dayanya lebih besar 1300 jadi lebih besar bayarnya, kalo dulu hanya 900 itu juga subsidi," jelasnya.

Selain itu warga yang tidak mendapatkan subsidi menurut Nining mendapatkan daya listrik sebesar 450.

Listrik Prabayar yang di nilai tinggi membuat Nining kerap kali mematikan lampu saat malam hari ketika menjelang tidur, tak hanya itu beberapa kebutuhan listrik lainnya jika tidak dibutuhkan ia tidak gunakan.

"Ini saja banyak yang saya Matikan seperti tempat memasak nasi, tidak saya nyalakan 24 jam, cuma jika sudah matang saya cabut, ketika suami pulang baru saya hangatkan," katanya. (Joko Supriyanto)

Sumber: Warta Kota
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved