Ingin Tahu Berapa Tarif Naik MRT? Ini Hasil Hitung-itungan PT MRT Jakarta

PT MRT Jakarta sudah membuat otak-atik tarif tiket MRT saat moda transportasi rel ini dioperasikan tahun 2019.

Ingin Tahu Berapa Tarif Naik MRT? Ini Hasil Hitung-itungan PT MRT Jakarta
Warta Kota/Rangga Baskoro
Tuhiyat, Direktur Keuangan dan Administrasi PT MRT Jakarta 

WARTA KOTA, MENTENG -- PT MRT Jakarta mengemukakan, proyek pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) sudah mencapai 74,89 persen. Pengerjaannya diperkirakan akan berakhir bulan Maret 2019.

Manajemen PT MRT Jakarta menyadari bahwa hal yang sering ditanyakan masyarakat adalah berapa besaran tarif yang akan ditetapkan ketika kereta yang dibangun di atas jalan layang dan di bawah tanah itu dioperasikan.

Menjawab pertanyaan tersebut, Direktur Keuangan dan Administrasi PT MRT Jakarta, Tuhiyat, mengemukakan bahwa kewenangan penentu tarif berada pada Pemprov DKI Jakarta dan DPRD selaku regulator

Namun pihaknya sudah memiliki ancang-ancang yang dihitung berdasarkan total biaya pembangunan dan selisih keuntungan sebesar 10 persen.

"Kami memang punya model keungan sendiri. Jadi kalau kami siasati dari perhitungan total cost sampai dengan akhir, dengan pertimbangan perhari kira-kira bisa angkut penumpang sekitar 170.000 orang dengan headway 5 menit sekali, kemudian ada total 18 stasiun yang dibangun, dengan profir margin kurang lebih 10 persen, ditemukan angka tarif perorangan sekitar Rp 17.000," tutur Tuhiyat seusai tampil dalam konfrensi pers di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (5/7).

Tarif sebesar Rp 17.000 belum termasuk penghitungan subsidi yang nantinya akan diberikan pemerintah berdasarkan pertimbangan PSO (Public Service Obligation).

"Tinggal berapa subsidi atau PSO yang disanggupi Pemprov DKI? Misalnya jarak terjauh penumpang berkisar Rp 10.000 perorang, bearti pemprov tinggal nambah sekitar Rp 7.000 perorang. Itu hanya bayanganya saja," ucapnya.

Besaran PSO bisa berkurang apabila hasil usaha pokok produk dari PT MRT bertambah.

"Sebutannya sebagai non fare box business yang meliputi hasil dari iklan, biaya sewa tempat-tempat retail, telekomunikasi, dan yang lainnya," ujarnya.

Namun, ujarnya, PSO bisa berkurang kalau hasil usaha pokok produk cukup banyak.

"Revenue kami hanya ada dua, dari non fare box revenue seperti iklan, retail, telekomunikasi, dsb, sama dari tarif penumpang," kata Tuhiyat. (Rangga Baskoro)

Editor:
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved