India Punya Mulyo, Thailand Punya Rexy, Korsel Punya Pria Ini
Wan Ho ditaklukkan pebulu tangkis nonunggulan India, Srikanth Kidambi, sedangkan Ji Hyun menyerah di tangan Sayaka Sato asal Jepang.
WARTA KOTA, SENAYAN - Sosok pelatih bulu tangkis asal Indonesia yang memajukan para atlet negara tetangga kembali jadi sorotan.
Jika federasi bulu tangkis India memiliki eks pelatih Taufik Hidayat, Mulyo Handoyo, dan Thailand memiliki peraih medali emas Olimpiade Atlanta 1996, Rexy Mainaky, maka Korea Selatan memiliki seorang Agus Dwi Santosa.
Sosok Agus kembali muncul di Tanah Air saat perhelatan BCA Indonesia Open Super Series Premier (BIOSSP) 2017 yang telah rampung hari Minggu (18/6/2017) lalu.
Memegang kendali di sektor tunggal putra maupun putri, Agus berhasil meloloskan dua anak didiknya, Son Wan Ho, dan Sung Ji Hyun hingga ke partai final BIOSSP 2017, meskipun keduanya kemudian hanya berstatus runner up.
Wan Ho ditaklukkan pebulu tangkis nonunggulan India, Srikanth Kidambi, sedangkan Ji Hyun menyerah di tangan Sayaka Sato asal Jepang.
Walau demikian, dua finalis tersebut sudah memiliki nama besar lantaran sudah masuk daftar pemain terbaik dunia di sektor masing-masing.
Wan Ho hingga kini masih berstatus sebagai pebulu tangkis putra nomor satu dunia, sementara Ji Hyun baru saja menempatkan namanya di nomor dua terbaik dunia.
Prestasi itu tak lepas dari sentuhan Agus yang telah menukangi timnas bulu tangkis Korea Selatan sejak Mei 2016 lalu.
Agus sendiri merupakan mantan pelatih di pelatnas PBSI dan salah satu klub bulu tangkis besar di Indonesia.
"Setelah resign dari klub, saya lalu melamar ke mana-mana. Respon pertama adalah Vietnam, namun tidak berlanjut karena mereka tidak ada dana untuk membiayai pelatih ke luar negeri. Barulah setelah itu Korea Selatan menawarkan saya, " kata Agus.
Agus pun lalu terbang ke Negeri Ginseng untuk mulai merambah karir barunya. Namun saat itu, tutur Agus, ia belum berkesempatan mendampingi anak-anak didiknya ke Olimpiade Rio 2016.
Agus tidak bisa sign in sebagai pelatih sektor tunggal lantaran terkendala urusan pembuatan kartu identitas kependudukan di Korea Selatan dan visa. Proses tersebut, kata Agus, memakan waktu empat bulan lebih.
Perlahan tapi pasti, Agus mulai mengasah kemampuan para atlet di sana. Reputasi Korea Selatan sebagai salah satu negara bulu tangkis yang diperhitungkan kian kuat.
Agus menilai, Korea Selatan masih punya potensi besar untuk melahirkan bibit-bibit pebulu tangkis dunia masa depan, meskipun ada beberapa kebijakan negara yang menjadi kendala.
"Terutama untuk yang putra, karena mereka harus ikut wajib militer yang bisa makan waktu beberapa bulan. Tentu ini pengaruh ke kualitas mereka. Makanya, untuk tunggal putri prospeknya sedikit lebih bagus, " kata Agus.
Kendala lainnya adalah padatnya agenda klub-klub bulu tangkis di Korea Selatan yang bisa dibilang sangat sering mengadakan pertandingan.
"Kalau di sana, federasi bulu tangkis yang harus mengikuti jadwalnya klub, bukan sebaliknya. Persiapan kami di BIOSSP 2017 pun sebetulnya minim sekali. Tapi saya tetap bersyukur Wan Ho dan Ji Hyun bisa sampai ke final walau hanya jadi runner up, " kata Agus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20170620-agus-dwi-santosa_20170620_113626.jpg)