Mudik 2017

Bus Bertameng Mesti Jalan Lebih Lambat

"Berarti batas kecepatan maksimal untuk bus bertameng ya sekitar 60 - 65 kilometer per jam," jelas Jusri.

Bus Bertameng Mesti Jalan Lebih Lambat
haltebus.com
Demi keselamtan, sopir bus pasang tameng kawat di kaca depan 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Theo Yonathan Simon Laturiuw

WARTA KOTA, GAMBIR -- Sejumlah bus antar kota antar propinsi (AKAP) Mudik 2017 banyak yang menggunakan tameng besi berjeruji untuk menghindari lemparan batu.

Pakar Safety Riding, Jusri Pulubuhu, mengatakan hal itu merupakan fenomena yang sedang marak sekarang.

"Cerita ini sudah lama dan memang untuk menjaga keamanan penumpang dan sopir," kata Jusri ketika dihubungi Wartakotalive.com, Sabtu (17/6/2017).

Namun perusahaan transportasi yang mengambil keputusan memakaikan tameng di busnya mesti membuat standar operational procedure (SOP) berbeda.

Sebab tameng cenderung mengganggu visibilitas sopir. Apalagi saat malam dan kondisi hujan.

"Perusahaan transportasi harus menyikapinya dengan SOP menurunkan kecepatan maksimal bus bertameng," kata Jusri.

Jusri menjelaskan, idealnya batas kecepatan maksimal diturunkan 15 - 10 kilometer dari batas kecepatan seharusnya.

Di jalan tol, batas kecepatan maksimal untuk bus berkisar antara 70 - 80 km per jam.

"Berarti batas kecepatan maksimal untuk bus bertameng ya sekitar 60 - 65 kilometer per jam," jelas Jusri.

Namun sejak awal perjalanan konsumen harus menerima informasi detail dari perusahaan.

Informasi dari perusahaan amat penting agar tak ada pertanyaan atau keluhan dari konsumen di tengah perjalanan.

Sehingga tak ada kesempatan bagi konsumen untuk menegur sopir dan meminta mempercepat busnya.

"Sebab apabila ada pengguna mengeluh dan meminta sopir mempercepat laju busnya, itu jadi preseden buruk. Sebab sopir menjadi tak nyaman dan menuruti kemauan konsumen. Pada akhirnya jadi membahayan," ujar Jusri.

Makanya Jusri menyarankan agar perusahaan bus yang memilih menggunakan agar benar-benar serius menangani perjalanan sejak awal.(ote)

Penulis: Theo Yonathan Simon Laturiuw
Editor: Murtopo
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved