Sampai Tengah Tahun Transaksi ACC Tembus Rp 12,2 Triliun

Astra Credit Companies (ACC), perusahaan pembiayaan dari grup Astra, membukukan pembiayaan sebesar Rp12,2 triliun hingga Mei 2017.

Penulis: | Editor: Max Agung Pribadi
Jodjana Jody, Chief Executive Officer ACC (kedua dari kanan) bersama jajaran direksi lainnya tengah menunjukkan brosur pembiayaan dari ACC. Per Mei 2017, ACC membukukan pembiayaan Rp 12,2 triliun. 

WARTA KOTA, SCBD-Astra Credit Companies (ACC), perusahaan pembiayaan dari grup Astra, membukukan pembiayaan sebesar Rp 12,2 triliun hingga Mei 2017.

Angka tersebut naik 14 persen dibanding pencapaian periode sebelumnya. Meski angka pembiayaan mencapai kenaikan, namun NPF (non performing financing) di periode yang sama juga naik tipis menjadi 0,75 persen.

Jodjana Jody, Chief Executive Officer ACC mengungkapkan bahwa pembiayaan terbesar masih berasal dari kendaraan roda empat.

Hingga Mei 2017 tercatat hampir 80 ribu kendaraan roda empat, tepatnya 79.980-an unit, yang mendapatkan pembiayaan dari ACC. Sekitar 19 persen diantaranya adalah kendaraan bekas, dan selebihnya adalah kendaraan baru.

“Pembiayaan lainnya ada dari berbagai macam, ada heavy equipment, kami juga sudah masuk ke properti. Kemudian juga ada modal kerja, karena peraturan OJK sekarang kami jangan hanya kasih kredit konsumsi, tapi juga untuk produksi,” ungkapnya di sela-sela buka bersama di Taigi Resto, Plaza Bapindo, Mandiri Tower, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (13/6/2017).

Jody menyatakan, dari hampir 80 ribuan unit kendaraan roda empat yang mendapatkan pembiayaan itu, 25 persen diantaranya adalah LCGC, dan 30 persennya kendaraan Low MPV.

Jadi mayoritas pembiayaan kendaraan masih 55 persen ada di low segmen. Jika diperhatikan, kata dia, dalam tiga tahun terakhir, kendaraan LCGC naik cepat.

Tahun pertama, sejak keluar 2014, pembiayaan LCGC mencapai 7 persen. Angka tersebut terus naik hingga sekarang mencapai 25 persen per Mei 2017.

“Per Mei 2017, NPF kami 0,75 persen. NPF terbesar juga ada di low segmen itu. Resiko DP rendah itu 5 kali lebih jelek dari pada DP yang normal biasa. Itulah sebabnya kami mikirnya lebih panjang. Ini konsumen sanggup apa nggak. Makanya, banyak keputusan yang mengecewakan, karena kami harus hati-hati,” kata Jody.

Berdasarkan pengalaman, lanjut Jody, kenaikan NPF ini juga masih akan berlanjut hingga selesai Lebaran.

“Habis Lebaran selalu naik default-nya, itu data tidak berbohong. Logikanya sangat jelas, orang habis-habisan saat Lebaran. Selesai Lebaran, Juli 2017, pasti lemes. Agustus 2017 dengan adanya motorshow, kami harap bisa naik lagi,” harap Jody.

Untuk mengurangi kenaikan NPF itu, ACC menerapkan berbagai strategi, misalnya dengan memberikan diskon penalty.

Bagi konsumen yang bulan sebelumnya sudah menunggak, agar tidak menunggak lagi, akan diberikan penalty amnesty. “Kami akan tekan NPF ini di bawah 0,7 persen sampai sekitar 0,65 di akhir tahun,” tandas Jody.

Sepanjang tahun 2016 lalu, ACC berhasil membukukan pembiayaan sebesar Rp27,5 triliun dengan laba bersih mencapai Rp1,060 triliun. Target tahun ini, kata Jody, minimal sama dengan tahun lalu.

“Kami tidak targetkan besar-besar karena tahun ini kan NPL di industri naik, jadi saya juga mesti hati-hati,” pungkasnya. 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved